TPID Optimistis Inflasi DIY 2019 Tetap Terkendali karena Ini

TPID Optimistis Inflasi DIY 2019 Tetap Terkendali karena IniIlustrasi pertumbuhan ekonomi. - IST
03 Desember 2019 23:27 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pada November 2019, DIY mengalami inflasi sebesar 0,31% (month to month/mtm). Dengan realisasi tersebut, laju inflasi tahun kalender 2019 mencapai 2,30% (year to date/ytd) dan inflasi tahunan 2,88% (year on year/yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY Hilman Tisnawan mengatakan melalui koordinasi yang semakin baik dan langkah-langkah yang cermat, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY optimistis pada akhir 2019, inflasi DIY akan tetap terkendali dan berada pada kisaran target yang ditetapkan, yakni 3,5%±1% (yoy), dengan kecenderungan bias bawah. "Inflasi yang terjadi pada November 2019 terutama disebabkan oleh peningkatan tekanan inflasi pada kelompok harga bergejolak [volatile food]," kata dia, Selasa (3/12).

Kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami tekanan inflasi yang relatif terbatas. Sementara itu,tekanan inflasi inti (core inflation) cenderung menurun dibandingkan bulan sebelumnya.

Kelompok volatile food tercatat mengalami inflasi 0,87% (mtm), utamanya disebabkan oleh kenaikan harga komoditas bawang merah (34,31%; mtm), daging ayam ras (4,03%; mtm), dan telur ayam ras (4,62%; mtm). Pada komoditas bawang merah, musim panen yang telah berakhir di beberapa sentra produksi di Bantul dan Gunungkidul menyebabkan pasokan di pasar semakin terbatas sehingga harga cenderung meningkat.

Selain itu, komoditas daging dan telur ayam ras harganya juga mengalami peningkatan. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras di tingkat pengecer mencapai 31.650/kilogram (kg) dan 22.450/kg. "Kenaikan harga komoditas tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru," ujar dia.

Kelompok administered prices juga mengalami inflasi 0,19% (mtm), utamanya dipicu oleh kenaikan harga tiket angkutan udara dan rokok putih, yakni masing-masing 2,50% (mtm) dan 0,46% (mtm). Sesuai siklusnya, trafik angkutan udara cenderung meningkat di akhir tahun. Peningkatan aktivitas meeting, incentive, convention and exhibition (MICE) turut berperan meningkatkan permintaan transportasi, khususnya angkutan udara. "Selain itu, kenaikan cukai rokok yang berlaku pada awal 2020 langsung direspons oleh produsen dengan meningkatkan harga secara bertahap sejak Oktober 2019, sehingga berdampak terhadap kenaikan harga rokok," ungkap dia.

Pada kelompok inti mengalami inflasi 0,21% (mtm), cenderung menurun dibanding tekanan inflasi bulan sebelumnya. Deflasi harga emas perhiasan sebesar -0,89% (mtm), sebagai dampak dari penurunan harga emas dunia, menjadi sumber utama menurunnya tekanan inflasi inti.