YIA Bawa Angin Segar untuk Ekspor

YIA Bawa Angin Segar untuk EksporPesawat di Yogyakarta International Airport, Kulonprogo. - Harian Jogja/Desi Suryanto
20 Desember 2019 06:07 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kehadiran Yogyakarta Internation Airport (YIA) menjadi angin segar bagi pertumbuhan perdagangan tanpa batas bagi UKM yang bergerak di bisnis mebel dan kerajinan di DIY di era e-commerce atau digitalisasi saat ini.

Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Industri Mebel & Kerajinan Indonesia (Asmindo) Endro Wardoyo mengatakan para pelaku UKM kerajinan dan mebel di DIY harus memanfaatkan YIA semaksimal mungkin baik dari promosi, pemasaran, maupun kargonya. Ekspor produk kerajinan dan mebel dalam negeri akan semakin luas dan tidak mungkin tanpa didukung fasilitas bandara yang memadai. "Jadi, kehadiran YIA sudah pas untuk mendukung konfigurasi di bidang jasa pengiriman logistik dan sebagainya sehingga harus dimanfaakan teman-teman UKM di DIY," papar Endro, Kamis (19/12).

Endro menjelaskan selain bisa menjadi hub logistik dan membuka peluang ekspor produk UKM DIY lebih besar, juga memangkas biaya logistik. Ekspor produk DIY biasanya melalui Jakarta, Semarang atau Surabaya kini bisa langsung di DIY dengan kehadiran YIA. Dengan berbagai manfaat tersebut, ia berharap fasilitas kargo segera dihadirkan YIA.

"Kami harap tahun depan sudah ada karena pengiriman barang apalagi untuk skala ekspor di DIY masih mengandalkan pelabuhan udara dan laut dari daerah lain. Hasilnya terminal kargo berstandar internasional akan lebih efektif dan memudahkan pengiriman barang ke berbagai negara tujuan ekspor," ungkap dia.

 

Nilai Tambah

Exporter & Manufacturer asal DIY Robby Kusumaharta mengatakan UKM yang berorientasi ekspor harus fokus memproduksi barang yang memiliki nilai tambah. "UKM tersebut juga harus mengkreasikan narasi untuk mendukung merek produk yang dihasilkan serta menjaga konsistensi kualitas produknya," ujar dia.

Ia mengatakan kesempatan untuk ekspor semakin terbuka dengan beroperasinya YIA yang diharapkan akan memudahkan ekspor. Sebelumnya untuk ekspor, para pengusaha di DIY harus mengirimkan ke luar negeri melalui Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dengan dioperasikannya YIA, diharapkan bisa menjadi hub logistik.

Ia melihat DIY memiliki potensi yang besar untuk ekspor apalagi didukung banyaknya ekonomi kreatif yang ada di DIY. Selain itu, besarnya jumlah UMKM di DIY menjadi penggerak roda perekonomian yang tahan krisis.

Ia mengungkapkan berdasarkan data Bappeda DIY, jumlah UMKM di DIY pada 2019 untuk sektor perdagangan sejumlah 41.486 usaha, industri pertanian 37.382 usaha, industri nonpertanian 34.498 usaha dan aneka usaha 31.674 usaha. Komoditas dari DIY pun menjadi barang langganan ekspor.

Sebanyak 10 komoditas utama ekspor DIY pada 2018 yakni pakaian jadi tekstil, mebel kayu, sarung tangan kulit, biji vanila, minyak atsiri, STK sintetis, kerajinan tas, kerajinan kayu, mebel rotan, dan produk tekstil lain.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Hilman Tisnawan mengungkapkan DIY dipandang memiliki potensi untuk menjadi hub logistik. Hal ini tak terlepas dari adanya pembangunan YIA atau Bandara Internasional Yogyakarta (BIY). "Bandara baru ini tidak hanya meningkatkan arus penumpang, tetapi juga digadang-gadang mampu menjadi hub logistik terutama di Pulau Jawa," kata dia.

Ia mengatakan DIY juga mengandalkan pertumbuhan ekonomi mengandalkan investasi karena adanya pembangunan bandara baru di Temon, Kulonprogo. "Satu hal yang diharapkan adalah kehadiran YIA yang mampu didarati pesawat berbadan besar. Ini harus dimanfaatkan. Tidak hanya meningkatkan arus penumpang dan barang tetapi DIY bisa menjadi hub logistik di Jawa," ujar Hilman.