Duh … Harga Cabai Diperkirakan Terus Naik Sampai Februari

Duh … Harga Cabai Diperkirakan Terus Naik Sampai FebruariIlustrasi cabai - Reuters
08 Januari 2020 07:22 WIB Iim Fathimah Timorria Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Curah hujan yang tinggi mengakibatkan harga berbagai jenis cabai diperkirakan akan terus terkerek sampai Februari. Di kalangan petani, harga cabai terpantau melonjak nyaris tiga kali lipat di awal tahun akibat rusaknya sebagian hasil panen.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengemukakan kenaikan harga cabai pada pekan pertama Januari merupakan imbas dari tak maksimalnya panen hasil penanaman November lalu. Dia menyatakan kondisi ini adalah kombinasi dari kemarau yang panjang ditambah dengan curah hujan tinggi pada akhir 2019.

"Tanaman yang ditanam pada November dan panen pada Januari kondisinya tidak maksimal, seharusnya banyak panen tapi banyak yang rusak karena kekeringan. Ada panen yang selamat tetapi masuk awal tahun ini justru hujan lebat. Efeknya ke hasil panen banyak rusak," kata Hamid kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Selasa (7/1).

Hamid mengemukakan banyak petani yang tetap memilih opsi penanaman pada November lalu dengan harapan pasokan air bakal normal seiring berakhirnya kemarau. Prediksi yang meleset inilah yang disebutnya menjadi salah satu faktor pemacu.

Di sisi lain, dia pun memperkirakan harga cabai bakal terus merangkak sampai Februari mendatang karena petani harus mengeluarkan biaya perawatan yang lebih besar untuk penanaman di musim hujan.

"Kami perkirakan harga akan bermasalah sampai Februari. Panen kemungkinan pada Maret dari penanaman pertengahan Desember. Namun kalau menanam pada periode ini biaya perawatan lebih besar," ujarnya.

Berdasarkan catatannya, harga sejumlah jenis cabai per 6 Januari di tingkat distributor daerah berkisar di angka Rp35.000-38.000 per kilogram (kg). Ketika panen normal, dia menyebutkan cabai biasanya dihargai Rp14.000-15.000 per kg. 

Faktor Alam

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto mengemukakan minimnya pasokan terjadi lantaran banyak petani yang mempertimbangkan menunda panen di tengah curah hujan yang tinggi. Di sisi lain, dia mengatakan banyak pemasok yang enggan mengirim cabai ke kawasan Jabodetabek dengan risiko hasil panen rusak akibat cuaca.

"Ini merupakan imbas dari banjir kemarin. Banyak pedagang yang tidak membawa cabai ke Jakarta karena khawatir akan rusak selama distribusi. Di sisi petani pun banyak yang tidak mau panen karena hujan," ujar Prihasto.

Kerugian di kalangan petani diperkirakan bisa mencapai Rp35 miliar untuk setiap 1.000 hektare lahan penanaman. Hamid menjelaskan asumsi keuntungan setiap hektare berkisar di angka Rp50 juta, namun karena gangguan cuaca, potensi kehilangan pendapatan petani disebutnya mencapai 70%. "Kerugiannya, misal 1.000 hektare dengan biaya perawatan Rp50 juta per hektare, jadi biaya sekitar Rp50 miliar, kerugian petani bisa 70% sekitar Rp35 miliar," katanya.

Sumber : Bisnis Indonesia