Harga Cabai Sentuh Rp63.000 per Kg

Harga Cabai Sentuh Rp63.000 per KgIlustrasi Panen cabai - JIBI
14 Januari 2020 07:22 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Harga cabai masih saja tinggi. Bahkan harga rata-rata cabai merah besar saat ini menyentuh angka Rp63.667 per kilogram (kg).

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yanto Apriyanto mengatakan harga rata-rata cabai merah keriting berdasarkan pantauan di tiga pasar yakni Demangan, Kranggan dan Beringharjo menunjukkan kenaikan Rp8.000 per kg (15,38%). Harga cabai merah keriting naik dari Rp44.000 per kg menjadi Rp52.000 pr kg.

"Untuk cabai merah besar naik dari Rp47.000 per kg menjadi Rp63.667 per kg atau mengalami kenaikan Rp16.667 per kg [26,18 persen]," ujar dia, Senin (13/1).

Sementara itu, cabai rawit hijau naik dari Rp28.667 menjadi Rp34.333 per kg dan cabai rawit merah naik dari Rp53.000 per kg menjado Rp57.000.

Ia mengungkapkan cabai merah dan rawit mengalami kenaikan cukup besar karena dipengaruhi beberapa hal. "Luasan panen sudah sedikit dan saat ini sudah memasuki masa tanam. Selain itu, kondisi cuaca juga memengaruhi," papar dia.

Meski demikian, ia menjamin ketersediaan cabai masih mencukupi. Pasokan cabai untuk warga DIY selain dari Kulonprogo dan Sleman, juga berasal dari Magelang dan Banyuwangi.                                                           

Emunerator harga Disperindag DIY Sumarno mengungkapkan karena pasokan yang berkurang maka harga terkerek naik. Ia menyebutkan di pasaran harga cabai keriting sebesar Rp45.000 hingga Rp47.000 per kg, cabai rawit merah Rp50.000 hingga Rp52.000 per kg. "Untuk cabai rawit hijau yang biasa untuk lalap Rp28.000 hingga Rp30.000 per kg dan cabai merah besar/teropong harganya Rp61.000 per kg hingga Rp63.000 per kg," kata dia.

Sementara, harga daging ayam broiler menurun. Sumarno menyebutkan harga daging ayam semula di kisaran Rp32.000 hingga Rp34.000 per kg menjadi Rp28.000 hingga Rp30.000 per kg.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY Ni Made Dwipanti menyebutkan persoalan data menjadi hal penting untuk memantau ketersediaan dan ketahanan pangan. Namun, persoalan data tersebut masih menjadi hal yang harus dipecahkan sejak dahulu.

"Soal data ini memang butuh komitmen masing-masing dari OPD. Itu persoalan kita dari dulu. Kami akan kejar tahun ini dan akan melibatkan pihak ketiga biar bisa tahu seberapa stoknya dan posisinya di mana. Jadi ada data yang bisa menjadi acuan," jelas dia.