Ekonomi Masih Aman, Industri Wisata Mulai Waspada

Ekonomi Masih Aman, Industri Wisata Mulai WaspadaWarga mengenakan masker di stasiun kereta di Beijing, China, Jumat (24/1 - 2020). / Yomiuri Shimbun via Reuters
29 Januari 2020 08:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Penyebaran virus Corona dinilai belum memengaruhi kondisi perekonomian tetapi telah membuat pelaku wisata waspada. Masyarakat diharapkan tidak mudah termakan berita bohong  atau hoaks untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, yang juga merupakan pengamat ekonomi, Edy Suandi Hamid mengatakan terjadinya serangan virus atau penyakit semacam ini sebenarnya bukan kali pertama. Beberapa tahun lalu, publik juga sempat digemparkan dengan isu virus SARS. “Bukan kali pertama sebenarnya semacam ini. Saat ini juga ekonomi masih stabil biasa, ekspor impor China masih berjalan. Saya tidak melihat dampak dan tidak akan berdampak pada ekonomi sepertinya, bisa diisolasi juga,” ucap Edy, Selasa (28/1).

Edy menjelaskan dari sisi supply and demand sampai saat ini juga masih lancar. Hanya, menurut Edy yang perlu menjadi perhatian yaitu pada aspek psikologis orang yang khawatir. “Harus ada penjelasan-penjelasan yang riil agar masyarakat tidak panik. Itu yang membahayakan, banyaknya hoaks,” ujarnya.

Sementara dari sektor pariwisata Edy melihat isu ini akan memberi pengaruh. Namun hal tersebut hanya berlangsung sementara. “Pihak yang berwenang menangani masalah ini harus proaktif juga, semisal ada suspect ya bilang ada, jangan bilang tidak ada,” katanya.

 

Pelaku Wisata Resah

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, yang juga Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan antar-Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asita tengah mendiskusikan sikap mereka terkait masalah virus ini. “Pagi ini [Selasa (28/1)] kami antar-DPD Asita seluruh indonesia diskusi di grup WA (Whatsapp), semua mengeluhkan hal yang sama. Semoga nanti menghasilkan statement sikap kami,” ucap Bobby.

Menurutnya, dengan penyebaran dan dampak luar biasa dari virus ini, semua negara menerapkan upaya preventif sedini mungkin untuk memproteksi keselamatan warganya masing-masing. “Industri butuh ketegasan langkah pemerintah sebagai sikap dalam mengantisipasi penyebaran virus ini di Indonesia, sehingga tetap menjaga kepercayaan market lainnya yang tidak terdampak virus ini dan mau berkunjung ke Indonesia,” ujarnya.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, sekaligus pengamat pariwisata, Ike Janita Dewi mengatakan virus corona sangat berpengaruh pada pariwisata. “Secara umum, industri pariwisata adalah industri yang paling terpengaruh isu seperti ini. DIY juga terpengaruh karena walaupun pasar Tiongkok bukan target pasar DIY, jumlah kunjungan mereka cukup besar [masuk ke top ten market]. Selain itu, dengan wabah ini akan banyak wisatawan yang menunda perjalanan,” katanya.

Ike mengatakan pemerintah harus mengambil langkah sistematis dan standar operasional prosedur (SOP) untuk mengantisipasi hal ini. Pintu masuk wisatawan harus dilengkapi dengan alat pendeteksi dini.

“Sulitnya, pintu masuk wisatawan mancanegara (wisman) ke DIY tidak cuma bandara, banyak juga yang over land [lewat darat]. Oleh karena itu, Pemerintah DIY harus proaktif berkoordinasi dengan semua pelaku industri wisata untuk mengamati dan melaporkan segera jika ada suspect corona ini. Mungkin ada hotline khusus yang bisa dihubungi. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan harus siaga,” ucapnya.