Rumah Kian Hijau saat Pandemi

Rumah Kian Hijau saat PandemiSuasana bagian dalam toko tanaman hias Tinandur Yk, belum lama ini. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
26 Juli 2020 16:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk berdiam diri di rumah. Untuk membunuh jenuh, mereka pun harus mencari cara, kesibukan, dan kesenangan baru, salah satunya adalah mengoleksi tanaman hias.  

Sejak pandemi, kehidupan Muhammad Idamansyah, 25, sebagai pengusaha sepatu mulai stagnan. Aktivitasnya sangat terbatas. Jika biasanya dia bisa mampir ke kedai kopi untuk merapikan berkas keuangannya selama berjam-jam, kini dia hanya bisa bekerja di kamar.

Di sela-sela bekerja, Idam, begitu dia disapa, banyak mengakses konten Instagram beberapa influencer idolanya.

Tepatnya pada April, konten renovasi kamar bergaya minimalis sedang tren di media sosial. Orang-orang pun berbondong-bondong mengunggah desain baru kamar mereka yang bergaya minimalis. Idam tak mau ketinggalan, dia ikut merenovasi kamarnya dengan menambahkan workspace (ruang kerja).

“Terus aku jadi kepikiran buat nambahin yang ijo-ijo [tanaman], buat hiasan. Nah kebetulan aku sering lihat Instagram Ernanda Putra [influencer]. Dia sering banget selama pandemi nunjukin koleksi-koleksi tanamannya. Aku tertarik sama selera dia,” kata Idam kepada Harianjogja,com, Senin (20/7).

Tanaman itu kini menghiasi ruang kerja Idam di kamar sebagai bagian dari dekorasi ruangan.

Ternyata, kata Idam, perawatan keempat tanaman itu tergolong gampang. Tanaman cukup ditaruh di media air dan pasir malang seperempat botol.

Tak jauh beda, Panggah Pambudi, 27. Pemuda yang sehari-harinya bekerja sebagai pengusaha kuliner ini terpaksa harus menutup sementara kedainya selama pandemi. Saat melakukan social distancing di dalam rumah, Panggah sering menonton konten Youtube tentang dekorasi rumah.

“Sebenarnya udah hobi menata rumah, saat pandemi hobi itu jadi muncul lagi. Sekarang ada 15 jenis berbeda, aku paling suka Janda Bolong dan Monstera,” kata Panggah.

Panen Rupiah

Sementara bagi penjual tanaman, tren mengoleksi tanaman hias saat pandemi menjadi keuntungan besar. Salah satunya Amalia Amanda Kasih, pemilik Tinandur YK, toko tanaman hias yang berada di Kalasan, Sleman.

Sejak Lebaran, Amel menjual hampers (bingkisan) berisi aneka jenis tanaman hias berukuran mini. “Hampers kami jual mulai harga Rp45.000, per harinya bisa terjual 10-15 buah. Bisa dipilih sendiri jenis tanamannya apa,” kata Amel.

Amel mengaku baru berbisnis tanaman hias sejak pandemi. Akan tetapi, berkebun sudah jadi hobi bagi keluarganya sejak belasan tahun lalu. Saat pandemi, Amel melihat banyak orang jenuh di rumah dan mendekorasi rumah mereka dengan berbagai jenis tanaman.

Memasuki Juni, Amel memutuskan untuk menambah jenis produknya, yaitu tanaman hias dalam berbagai variasi jenis pot. Mulai dari plastik, vas kaca hingga pot gerabah. Dengan media tanah dan pot, Amel mengeluarkan semua stok jenis tanaman yang sedang tren.

“Setiap hari selalu pembeli baru yang kebanyakan adalah pemula di dunia koleksi tanaman. Rata-rata anak muda atau pasangan muda. Ada beberapa tanaman yang banyak diburu, rata-rata yang cara merawatnya mudah, karena pelanggan saat pandemi kebanyakan pemula,” kata Amel.

Amel kemudian meranking jenis tanaman yang paling banyak diminati pembeli. Sansieviera menempati posisi pertama, disusul dengan aneka kaktus, monstera dan janda bolong. “Omzet memang meningkat terus, kami hitungnya per hari, sehari rata-rata kami bisa dapat Rp800.000,” kata Amel.

kegiatan menyiapkan pesanan tanaman di Kalplanter

Tren koleksi tanaman di tengah pandemi juga membuat usaha milik Fahmi Ihsan, Kalplanter, kecipratan untung. Kenaikan volume penjualan yang ia catat bahkan mencapai 300% pada akhir Maret. Semuanya adalah pembeli pemula yang baru saja mengoleksi tanaman saat pandemi. “Mereka mayoritas memang pemula. Rata rata usia 20-40 tahun, masih muda semua. Setiap ada pembeli pemula selalu kami bimbing untuk perawatannya," kata Fahmi.

Sebelum pandemi, pelanggan Kalplanter rata rata adalah mahasiswa yang menyukai home decor. Kini pelanggannya merambah pada segmen yang menyukai kegiatan bercocok tanam. “Bahkan para pemula ini 50 persennya melakukan repeat order alias pembelian kembali,” ucap dia.