Ini Risikonya Setelah Ekonomi Masuk Jurang Resesi

Ini Risikonya Setelah Ekonomi Masuk Jurang ResesiWarga beraktivitas di permukiman semi permanen di Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Jakarta, Selasa (22/1/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar
30 September 2020 19:17 WIB Maria Elena Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ancaman resesi ekonomi sudah semakin dekat di depan mata. Hantaman pandemi Covid-19 pada hampir seluruh sektor ekonomi dan berbagai lapisan masyarakat tidak terelakkan.

Ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun ini telah mengalami pertumbuhan negatif sebesar -5,32 persen. Diperkirakan, pertumbuhan negatif ini akan berlanjut pada kuartal III/2020.

Pemerintah pun berkali-kali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Terakhir, pemerintah memprediksi ekonomi kuartal III/2020 akan berada pada kisaran -2,9 persen hingga -1,0 persen. Kontraksi pada kuartal ketiga ini memang lebih kecil dibandingkan dengan kontraksi ekonomi pada kuartal kedua.

Namun, dengan pertumbuhan yang kembali tercatat negatif, ekonomi Indonesia akan resmi mengalami resesi. Apa yang akan terjadi jika Indonesia memasuki jurang resesi ekonomi?

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi mengatakan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini dipastikan akan tercatat negatif secara tahunan (year-on-year/yoy).

Namun jika dibandingkan secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi pada kuartal III/2020 masih bisa tumbuh positif. Artinya, kontraksi yang terjadi pada kuartal ketiga tidak akan sebesar kuartal kedua.

Eric mengatakan dampak yang nyata terlihat dari resesi ekonomi tentunya terjadi lonjakan pada angka pengangguran dan tingkat kemiskinan. "Dampak resesi paling terlihat di angka pengangguran dan tingkat kemiskinan," katanya kepada Bisnis, Rabu (30/9/2020).

Eric memperkirakan, presentase penduduk miskin akan meningkat hingga 12 persen terhadap total populasi masyarakat Indonesia pada tahun ini akibat dampak yang ditimbulkan dari pandemi Covid-19.

Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statitik (BPS), persentase penduduk miskin pada Maret 2020 tercatat sebesar 9,78 persen. Posisi ini meningkat 0,56 persen poin dibandingkan September 2019 dan meningkat 0,37 persen poin dari posisi Maret 2019.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 26,42 juta orang, meningkat 1,63 juta orang dari posisi September 2019 dan meningkat 1,28 juta orang dari posisi Maret 2019.

Padahal, pada periode ini wabah Covid-19 belum massif terjadi di Indonesia. Dari hasil survei demografi dan dampak Covid-19 yang dilakukan BPS, terlihat bahwa pendapatan seluruh lapisan masyarakat menurun.

Di samping itu, Eric juga memperkirakan tingkat pengangguran terbuka pada 2020 akan melonjak hingga mencapai level 9 persen. Adapun, per Februari 2020, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,99 persen, dari tahun 2019 yang tercatat sebesar 5,01 persen.

Bank Dunia dalam laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update October 2020 menyebut pandemi akan menyebabkan dampak yang berkepanjangan, termasuk pada kualitas SDM di suatu negara.

Pemerintah pun perlu melakukan tindakan cepat untuk memastikan pandemi Covid-19 tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan berdampak melonjaknya tingkat kemiskinan di tahun-tahun mendatang. Pasalnya, pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang masyarakat kelas bawah, tetapi juga menciptakan orang miskin baru.

Dampak yang paling parah tentunya akan dialami oleh masyarakat kelas bawah, yang aksesnya terhadap kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan keuangan, sangat terbatas.

Sumber : Bisnis.com