Produsen Kereta Api Dunia Akan Buka Kantor di RI, Pabriknya Hampir Selesai

Produsen Kereta Api Dunia Akan Buka Kantor di RI, Pabriknya Hampir SelesaiMenteri Luar Negeri Retno Marsudi didampingi Menteri BUMN Erick Thohir memberikan keterangan pers secara virtual terkait kunjungan ke Swiss untuk membahas kerja sama bilateral dan multilateral, Jumat (16/10 - 2020)/ Youtube Kementerian Luar Negeri
17 Oktober 2020 06:27 WIB Rayful Mudassir Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan kabar baik yakni produsen kereta api dunia Swiss Stadler Rail akan mendirikan kantor pusat regional Asia dan Oceania di Indonesia dalam waktu dekat.

Komitmen itu disampaikan saat media briefing secara virtual dari Jenewa, Swiss, Jumat (16/10/2020). Dia mengatakan bahwa Swiss Stadler Rail akan membangun kantor pusat di Indonesia. Pembangunan kantor itu berkaitan dengan kerja sama produsen kereta api dunia itu dengan PT Industri Kereta Api dan PT Kereta Api Indonesia sejak 2019.

“Stadler akan buat kantor pusat regional Asia dan Ocenia di Indonesia,” kata Erick, Jumat (16/10/2020).

Baca juga: Catatan Ombudsman tentang Substansi UU Cipta Kerja: Izin Usaha & Ketenagakerjaan

Selain itu, kerja sama ketiga perusahaan kereta api itu juga tengah membangun pabrik di Indonesia. Erick menyebutkan bahwa pabrik tersebut tidak lama lagi akan selesai.

Kerja sama ini diyakini akan menjadikan perusahaan kereta api dalam negeri menjadi pemain tingkat regional. Dia juga memastikan hubungan tersebut akan membuat Indonesia mampu memproduksi kereta api kelas dunia.

“Kita sepakat dengan Stadler, INKA, KAI bersama-sama kita akan bangun pabrik untuk pastikan bagaimana kita bisa buat gerbong kereta api tingkat dunia,” ujarnya.

Baca juga: Begini Kelemahan Penyusunan Kebijakan Legislasi di Indonesia Menurut Guru Besar FHUI

Sementara itu, dalam pertemuan bilateral dengan Pemerintah Swiss, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menjelaskan hasil pertemuan tersebut setidaknya menghasilkan beberapa poin.

Pertama, Indonesia mengapresiasi kebijakan Pemerintah Swiss untuk memasukan RI sebagai salah satu negara prioritas kerja sama pembangunan 2021 - 2024.

“Indonesia mengusulkan kiranya isu kesehatan dapat dimasukkan sebagai salah satu bidang kerja sama. Kerja sama kesehatan ini dapat berupa, antara lain, penguatan kerja sama antar institusi, telemedicine, riset dan inovasi,” kata Retno.

Kedua, Indonesia mengharapkan agar ratifikasi Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA) dari pihak Swiss dapat segera dilakukan.

Ketiga, Indonesia mengharapkan agar negosiasi perjanjian investasi bilateral dapat diselesaikan paling lambat awal tahun 2021. Selain itu, RI mengusulkan agar kerja sama pendidikan vokasi dan revitalisasi Balai Latihan Kerja dapat menjadi bagian implementasi dari MoU on Labour and Employment.

Kelima, Indonesia mengharapkan ratifikasi Perjanjian Mutual Legal Assistance (MLA) segera diselesaikan oleh Swiss. Bagi pengusaha Swiss, Indonesia dinilai tetap merupakan negara yang atraktif dan menjadi tujuan bisnis mereka di Asia.

Sumber : Bisnis.com