Setelah Kritik Pemerintah China, Jack Ma Bukan Lagi Orang Terkaya di China

Setelah Kritik Pemerintah China, Jack Ma Bukan Lagi Orang Terkaya di China CEO dan pendiri pasar e/commerce Pinduoduo, Colin Huang menggeser posisi Jack Ma sebagai orang terkaya di China.
04 Januari 2021 23:17 WIB Nirmala Aninda Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -- Miliarder China Jack Ma, orang di balik Alibaba, merosot ke urutan ketiga dalam daftar orang terkaya di negara itu setelah mengkritik pemerintahan China dan menghilang dari acara TV-nya sendiri.

CEO dan pendiri pasar e-commerce Pinduoduo, Colin Huang, mengambil alih posisi Ma, sementara Pony Ma (Ma Huateng) dari Tencent Holdings  menjadi orang terkaya kedua di negara itu.

Kabar tersebut muncul saat misteri seputar keberadaan Jack Ma, yang menghilang dari acara pencarian bakat TV-nya sendiri. Belum ada tanda-tanda keberadaannya sejak akhir Oktober.

Dilansir Daily Mail, Senin (4/1/2021), pria berusia 56 tahun itu dikatakan telah menghasilkan kekayaan sekitar 35 miliar poundsterling dari pembuatan Alibaba, Amazon versi Asia, dan merupakan ikon rezim komunis.

Tetapi, penguasa China tampaknya berbalik melawannya setelah dia mengkritik regulator dan bank milik negara pada konferensi teknologi keuangan pada bulan Oktober.

Nasib platform e-commerce, pengiriman, dan media sosial terbesar di negara itu berada dalam ketidakpastian sejak Beijing menyusun dokumen untuk menindak fenomena 'ekonomi platform' pada awal November.

Sementara itu, profil Ma telah dihapus dari halaman web penjurian Africa’s Business Heroes - program televisi untuk wirausahawan pemula. Final berlangsung tanpa dia dan dia juga absen dari video promosi.

Padahal, beberapa minggu sebelum final pada bulan November, Ma mengunggah sebuah cuitan yang mengatakan bahwa dia tidak sabar untuk bertemu kontestan.

Adapun, tidak ada aktivitas sejak saat itu di akun Twitter ayah tiga anak itu, yang sebelumnya rutin menggungah beberapa cuitan setiap hari.

Meskipun menjadi salah satu pengusaha paling sukses di China, Ma sering berselisih dengan rezim karena preferensinya untuk lebih banyak ekonomi pasar terbuka. Sejauh ini tidak ada indikasi bahwa dia mengalami cedera fisik.

Hingga baru-baru ini, dia telah menjadi pemimpin utama pendekatan unik China untuk menghasilkan kekayaan dengan melepaskan kekuatan pasar dalam kerangka kerja komunis yang dikontrol ketat.

Guru bahasa Inggris itu berubah menjadi raja bisnis yang kini memiliki status mendekati seorang bintang.

Bahkan ketika ketegangan antara AS dan China semakin dalam, Ma justru menyumbangkan 2.000 ventilator ke New York dengan orang kepercayaannya Joe Tsai, hingga mendapatkan ucapan terima kasih dari Donald Trump.

Meski demikian, hubungan Ma dengan regulator China menjadi semakin renggang, terutama setelah upayanya untuk mendaftarkan perusahaan jasa pembayarannya ke lantai bursa dibatalkan oleh pihak berwenang.

Keputusan ini dilihat oleh banyak orang sebagai langkah pembalasan atas pidatonya kritisnya terhadap pemerintah dan bank milik negara yang meledak-ledak di Shanghai pada bulan Oktober. Kini, Ma, yang menikah dengan Cathy Zhang, 55 tahun, benar-benar menghilang dari pandangan publik.

Perubahan mendadak ini menjadi isu yang lebih besar hingga memicu berbagai spekulasi mengingat profil publiknya yang Jack Ma sangat berpengaruh. Di sisi lain, pihak berwenang juga telah mengumumkan penyelidikan anti-monopoli ke Alibaba.

Beijing memiliki sejarah tindakan keras terhadap kritik internal dan pada bulan Maret seorang taipan properti, Ren Zhiqiang, menghilang setelah dia menyebut Presiden Xi Jinping sebagai 'badut' karena penanganannya terhadap krisis virus corona.

Teman Ren Zhiqiang mengatakan mereka tidak bisa menghubunginya dan enam bulan kemudian dia dijatuhi hukuman 18 tahun penjara setelah dia 'secara sukarela dan jujur <

Selain itu, Xian Jianhua, seorang pemodal miliarder, diculik dari sebuah hotel di Hong Kong pada tahun 2017 dan dibawa ke mainland.

Dia dikatakan masih dalam tahanan rumah lebih dari tiga tahun kemudian, tanpa kabar resmi terkait keberadaannya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia