Advertisement
Cermat! Hati-hati Pilih Saham BUMN, Ini Rekomendasi Analis
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Investor disarankan untuk berhati-hati dalam mengakumulasikan saham emiten pelat merah yang mengalami kenaikan harga signifikan sejak awal tahun ini.
Pasalnya, sentimen pendorong kenaikan harga saat ini lebih banyak datang dari isu dan ekspektasi alih-alih dari kinerja fundamental perusahaan.
Advertisement
Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menjelaskan bahwa penguatan harga saham emiten BUMN belakangan ini didorong oleh sentimen vaksin untuk sektor farmasi dan anggaran infrastruktur yang lebih tinggi untuk BUMN Karya.
“Kalau investasi dengan memperhatikan kondisi riil dan fundamental, sebaiknya hati-hati karena pergerakan harga saham tidak selalu mencerminkan fundamental. Sentimen itu lebih cepat menggerakkan harga dibandingkan kondisi sebenarnya,” kata Reza, Minggu (17/1/2021).
Reza menjelaskan biasanya saham-saham perbankan yang menjadi motor utama pendorong kinerja indeks IDX BUMN20. Namun, belakangan ini saham-saham dengan momentum tertentu seperti saham tambang, infrastruktur, dan farmasi lebih banyak berkontribusi.
Adapun, kenaikan harga saham tambang disebut Reza berasal dari sentimen produksi nikel sebagai bahan baku baterai dapat memenuhi permintaan produsen kendaraan listrik global.
Sementara kenaikan harga saham BUMN farmasi berasal dari apresiasi pelaku pasar terhadap distribusi vaksin.
“Ditambah lagi dari Kementerian BUMN memberikan pernyataan yang memberikan gambaran positif terhadap emiten tertentu,” tutur Reza.
Dengan demikian, investor disarankan untuk terus mencermati hubungan antara sentimen saat ini dengan kinerja perusahaan pelat merah di masa depan.
Agar tak hanyut dalam aliran isu, Reza merekomendasikan saham-saham BUMN yang menguat karena sentimen sesaat untuk diperdagangkan untuk jangka pendek (trading) saja.
Sementara itu, untuk investasi jangka panjang, Reza masih menjagokan saham-saham berfundamental baik dari sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Dari sektor nonkeuangan, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. disebut menarik karena valuasi masih murah. Sementara dari sisi bisnis juga dinilai menjanjikan karena emiten dengan kode saham TLKM itu menguasai hampir seluruh pangsa pasar data di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








