Advertisement

BEI Kantongi 7 Perusahaan dalam Antrean IPO, Didominasi Aset Skala Bes

Newswire
Sabtu, 07 Maret 2026 - 23:27 WIB
Sunartono
BEI Kantongi 7 Perusahaan dalam Antrean IPO, Didominasi Aset Skala Bes Warga memantau pergerakan saham melalui gawainya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (18/3/2025). Antara - Sulthony Hasanuddin

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan geliat pasar modal nasional mulai menunjukkan pergerakan dengan adanya tujuh perusahaan yang masuk dalam daftar antrean (pipeline) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO).

Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan korporasi kakap dengan kategori aset skala besar, yang menandakan potensi penguatan kapitalisasi pasar modal Indonesia pada periode mendatang.

Advertisement

Berdasarkan klasifikasi aset, otoritas bursa mencatat enam perusahaan masuk dalam kategori skala besar, sementara satu perusahaan lainnya berada pada level skala menengah. Klasifikasi ini merujuk pada regulasi ketat yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait profil risiko dan kemampuan finansial emiten sebelum melantai di bursa.

“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

Nyoman menjelaskan bahwa penentuan skala perusahaan ini didasarkan pada Peraturan OJK (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017. Dalam aturan tersebut, perusahaan beraset skala besar wajib memiliki nilai aset di atas Rp250 miliar, sedangkan untuk skala menengah berada di rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Ditinjau dari sisi sektoral, antrean IPO kali ini menunjukkan keberagaman industri yang cukup dinamis. Sektor keuangan mendominasi dengan tiga perusahaan, disusul oleh masing-masing satu perusahaan dari sektor transportasi dan logistik, barang konsumen primer, energi, serta sektor kesehatan.

Meskipun pipeline mulai terisi, BEI melaporkan bahwa sepanjang awal tahun hingga 6 Maret 2026, belum ada satu pun perusahaan yang secara resmi melakukan listing perdana. Dengan demikian, jumlah emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia masih bertahan di angka 956 perusahaan, sama seperti posisi pada penutupan akhir tahun 2025 lalu.

Selain instrumen saham, aktivitas penggalangan dana di pasar modal juga diramaikan oleh penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Hingga periode yang sama, BEI telah mencatatkan 37 emisi dari 26 penerbit EBUS dengan total penghimpunan dana fantastis mencapai Rp41,41 triliun.

"Terdapat 20 emisi dari 13 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline untuk menerbitkan emisi EBUS," ungkap Nyoman mengenai prospek pendanaan melalui surat utang di tahun ini.

Tak hanya IPO dan EBUS, aksi korporasi berupa rights issue juga mulai bergulir di mana tiga perusahaan telah sukses mengeksekusi aksi tersebut dengan total nilai Rp3,75 triliun.

Dalam antrean mendatang, terdapat satu perusahaan dari sektor properti yang dijadwalkan akan menyusul melakukan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu tersebut.

Kesiapan sejumlah perusahaan besar untuk melantai di bursa diharapkan mampu memberikan sentimen positif bagi iklim investasi di Indonesia.

BEI optimis bahwa masuknya perusahaan-perusahaan dengan fundamental kuat ini akan meningkatkan kepercayaan investor domestik maupun global, sekaligus memperkuat posisi pasar modal Indonesia sebagai destinasi investasi yang menjanjikan di kawasan regional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jangan Panic Buying, Stok BBM Nasional Aman

Jangan Panic Buying, Stok BBM Nasional Aman

Jogja
| Sabtu, 07 Maret 2026, 22:57 WIB

Advertisement

Catat! Ini Daftar Hari Libur dan Hari Besar April 2026

Catat! Ini Daftar Hari Libur dan Hari Besar April 2026

Wisata
| Kamis, 05 Maret 2026, 22:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement