SCH Jadi Mal Sentra Vaksinasi Pertama di DIY

SCH Jadi Mal Sentra Vaksinasi Pertama di DIYPara narasumber yang hadir dalam jumpa pers "SCH Bakti untuk Negeri" berfoto bersama di lantai 3 Sleman City Hall, Senin (6/9). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
07 September 2021 07:50 WIB Bernadheta Dian Saraswati Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Sleman City Hall menyelenggarakan program CSR "SCH Bakti untuk Negeri" dengan menjadi sentra vaksinasi di pusat perbelanjaan. Program ini dilakukan untuk mendukung percepatan vaksinasi nasional.

Salah satu mal di Kabupaten Sleman ini memiliki beberapa vanue luas yang dapat dijadikan tempat vaksinasi, antara lain di Atrium Rama lantai Ground Floor (GF), area garden dan brainspot Lantai 1, serta Minthall Lantai 2 dan Selasar Malika Ballroom Lantai 3.

Fasilitas penunjang kegiatan vaksinasi di SCH juga mumpuni. Selain area yang luas, akses ke SCH yang mudah, area parkir luas, seluruh lantai telah tersedia mushala bagi peserta dan panitia vaksin yang ingin beribadah, juga ada restroom khusus untuk penyandang disabilitas, serta kapasitias lift pengunjung yang besar dengan kapasitas delapan orang (dengan physical distancing ) dapat digunakan oleh penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda untuk menuju ke area vaksinasi.

Urip Soebagyo selaku Komisaris Utama PT Garuda Mitra Sejati (SCH) menyampaikan SCH telah menjadi tempat pelaksanaan vaksinasi sejak Maret 2021. "Sampai saat ini sudah 33 kali [menjadi tempat vaksinasi] dan sudah dijadwalkan sampai November 2021," kata Urip dalam jumpa pers di SCH, Senin (6/9/2021).

Setidaknya lebih dari 51.000 orang telah divaksin di SCH dengan lebih dari 120.000 dosis vaksin, baik jenis Sinovac maupun AstraZeneca. Mereka yang datang untuk vaksinasi berasal dari kalangan ASN Kabupaten Sleman, pelayan publik, penegak hukum, pemuka agama, instansi perbankan, SAR, hingga kaum disabilitas.

Syarat masyarakat yang ingin mengikuti vaksinasi antara lain harus berusia minimal 12 tahun untuk jenis Sinovac dan minimal 18 tahun untuk AstraZeneca; wajib membawa foto copy KTP atau KK/KIA dua lembar; ibu hamil minimal usia kandungan 13 minggu dan maksimal 33 minggu; wajib surat dokter bagi pendaftar komorbid; dan wajib mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyambut baik kegiatan vaksinasi di SCH tersebut. Ia mengatakan pemerintah terus menggenjot capaian vaksinasi dengan bekerjasama dengan para stakeholder. Hal ini dilakukan untuk mempercepat terciptanya kekebalan komunal atau herd immunity. "Kita bareng-bareng memutus mata rantai Covid-19," kata Kustini.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama mengatakan SCH menjadi pioneer sentra vaksinasi di pusat perbelanjaan di Sleman. Saat ini, dinas sendiri terus menggenjot vaksinasi reguler di pusat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas. Ia berharap dengan bertambahnya titik-titik vaksinasi, maka target herd immunity bisa segera tercapai.

"Herd immunity bisa tercapai kalau [tempat vaksinasi] reguler dan sentra-sentra vaksinasi [di luar sentra vaksinasi reguler] ini berjalan bareng," kata Cahya.

Asisten Sekretariat Daerah (Setda) DIY Bidang Pemerintahan dan Administrasi Umum yang juga Ketua Tim Percepatan Vaksinasi DIY Sumadi menegaskan persoalan pandemi Covid-19 menjadi tanggung jawab semua sektor, termasuk soal keberhasilan pelaksanaan vaksinasi. "Dengan target vaksinasi di Sleman 20.000 dosis per hari, nanti Oktober bisa selesai," katanya.

Jumpa pers "SCH Bakti untuk Negeri" tersebut juga dihadiri oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY Srie Nurkyatsiwi, Komandan Kodim 0732/Sleman Letkol Inf Arief Wicaksana, dan Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yulianto.