Advertisement
IPO Perusahaan DIY Mundur, BEI Ungkap Kendalanya
Saham - Foto ilustrasi dibuat oleh AI - StockCake
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY menyampaikan bahwa jelang akhir tahun 2025 belum ada perusahaan dari DIY yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham perdana di BEI. Kepala BEI DIY, Irfan Noor Riza, mengatakan rencana IPO oleh 1–2 perusahaan dari DIY tahun ini diperkirakan akan mundur ke tahun depan.
Dia menjelaskan perusahaan di DIY sudah menunjukkan minat dan telah mempersiapkan diri menuju IPO. Namun, kata Irfan, sampai saat ini proses dari calon emiten DIY tersebut masih berada pada tahap awal persiapan, seperti perbaikan tata kelola perusahaan, restrukturisasi internal, dan audit keuangan yang merupakan tahapan krusial sebelum bisa masuk ke proses pencatatan saham.
Advertisement
Menurutnya, belum terealisasinya IPO perusahaan dari DIY tahun ini kemungkinan disebabkan beberapa kendala internal perusahaan. Pertama, kata dia, adalah tata kelola dan struktur organisasi, di mana banyak perusahaan di DIY perlu melakukan perbaikan tata kelola Good Corporate Governance (GCG).
"Agar sesuai dengan standar yang disyaratkan oleh OJK dan Bursa Efek Indonesia," ujarnya, belum lama ini.
BACA JUGA
Faktor selanjutnya, dia sebut, terkait administrasi dan legalitas. Menurutnya, masih ada temuan sejumlah dokumen dan legalitas usaha yang masih perlu harmonisasi atau pemutakhiran, terkait komposisi kepemilikan, anggaran dasar, hingga pencatatan aset.
Lebih lanjut dia mengatakan faktor lainnya terkait laporan keuangan dan audit, di mana proses penyusunan laporan keuangan (termasuk audit eksternal) memakan waktu cukup lama dan harus memenuhi standar yang disyaratkan untuk IPO.
Kemudian, kata Irfan, terkait kesiapan sumber daya manusia (SDM), sebab manajemen maupun karyawan perusahaan perlu memperkuat pemahaman dan kesiapan menghadapi transformasi menjadi perusahaan terbuka, baik dari sisi SDM maupun budaya kerja.
Irfan mengatakan faktor terakhir adalah terkait pemahaman dan komitmen pemilik usaha. Dia menjelaskan banyak pemilik perusahaan masih mempertimbangkan langkah IPO dari sisi benefit dan tantangan jangka panjang.
"Termasuk perubahan manajemen, transparansi, serta kesiapan mental untuk menjadi perusahaan publik," lanjutnya.
Melihat kondisi ini, menurutnya, BEI DIY terus berupaya memfasilitasi dan mendorong calon emiten lokal melalui pendampingan intensif melalui IDX Incubator dan edukasi bisnis terkait proses IPO. Kemudian mengadakan forum diskusi untuk perusahaan-perusahaan calon emiten, underwriter, dan OJK.
"Mendorong integrasi bisnis UMKM menuju korporatisasi agar lebih siap IPO," jelasnya.
Irfan berharap melalui berbagai perbaikan dan pendampingan yang berkelanjutan, perusahaan-perusahaan DIY dapat lebih siap untuk melantai di bursa pada tahun mendatang.
"Kami berkomitmen memberikan dukungan agar ke depan semakin banyak perusahaan DIY siap IPO dan berkontribusi langsung terhadap perekonomian daerah dan nasional."
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan sampai 7 November 2025 sebanyak 24 perusahaan telah mencatatkan saham di BEI dengan dana yang dihimpun mencapai Rp15,21 triliun.
"Hingga saat ini terdapat 13 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pilur Sleman E-Voting Dinilai Efektif Meski Biaya Jadi Kendala
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Perang Iran vs AS-Israel Bikin Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam
- Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez
- Menteri ESDM, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik hingga Lebaran 2026
- Warga Sleman Siap-siap, Bakal Ada 1.000 Sambungan Jargas Baru
- Mudik Gratis Dinilai Efisien Redam Risiko Kecelakaan Lebaran
- JNE Prediksi Pengiriman Ramadan Naik hingga 30 Persen
- Harga Emas Pegadaian: UBS Rp3,05 Juta dan Galeri24 Rp3,03 Juta
Advertisement
Advertisement








