Advertisement
Jogja Deflasi Awal 2026, Harga Kebutuhan Diprediksi Naik Saat Ramadan
Inflasi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja mencatat deflasi pada Januari 2026 setelah lonjakan harga pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) Desember 2025. Deflasi Kota Jogja ini dinilai sebagai fase penyesuaian harga sebelum inflasi kembali meningkat menjelang Ramadan 2026.
Statistisi Ahli Madya BPS Kota Jogja, Fandi Akhmad, menjelaskan secara bulanan Januari 2026 memang mengalami penurunan harga karena pada Desember sebelumnya terjadi kenaikan cukup tinggi. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan kembalinya harga ke level yang lebih normal seusai tekanan inflasi akhir tahun.
Advertisement
“Secara bulanan Januari 2026 terjadi deflasi karena pada Desember sebelumnya harga sudah naik cukup tinggi. Jadi Januari ini merupakan fase penyesuaian harga,” katanya, Senin (2/2/2026).
Fandi menegaskan kelompok makanan dan minuman masih menjadi komoditas yang paling fluktuatif. Perubahan harga pada kelompok ini biasanya terjadi saat periode libur panjang maupun hari besar keagamaan.
BACA JUGA
Memasuki pertengahan Februari 2026, ia memprediksi inflasi Kota Jogja berpotensi kembali meningkat menjelang Ramadan. Kenaikan harga dipicu lonjakan permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan pokok.
“Pada Januari harga relatif kembali normal. Namun ketika memasuki bulan puasa, kemungkinan besar harga akan naik lagi. Secara teori, saat permintaan meningkat maka harga juga akan terdorong naik,” katanya.
Menurutnya, tren kenaikan harga biasanya mencapai puncak menjelang Idulfitri. Komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi utama tetap didominasi makanan, minuman, serta sektor transportasi yang meningkat aktivitasnya selama arus mudik dan perayaan Lebaran.
“Selama puasa dan Lebaran, makanan, minuman, dan transportasi menjadi penentu utama inflasi,” katanya.
Meski ada potensi kenaikan harga saat Ramadan 2026, Fandi memperkirakan polanya tidak akan jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Seusai Idulfitri, harga-harga yang sempat meningkat biasanya berangsur turun dan kembali mengikuti tren normal pasar, sehingga dinamika inflasi Kota Jogja tetap bergerak sesuai siklus musiman tahunan yang dipengaruhi momen keagamaan dan permintaan konsumsi masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Rahasia Kongo Gumi Bertahan 1.400 Tahun Lebih
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement









