Advertisement
Ekonom UGM Sebut Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Sulit Tercapai
Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8% pada 2026, namun realistisnya, target ini dinilai masih jauh dari jangkauan. Pandangan ini disampaikan oleh Akhmad Akbar Susamto, Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Menurut Akbar, meski ekonomi Indonesia tergolong resilien, laju pertumbuhan masih terbatas. “Target 8% terdengar ambisius. Sejak 30 tahun terakhir, Indonesia bahkan belum pernah mencapai 7% pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Advertisement
Ia menambahkan, proyeksi lembaga internasional maupun nasional seperti IMF, Bank Dunia, ADB, dan lembaga riset domestik menempatkan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5%. Konsumsi rumah tangga diprediksi tetap menjadi penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB), diikuti investasi yang meski berfluktuasi, tetap berperan penting.
Namun, investasi asing (PMA) diperkirakan menurun pada sektor pertambangan, kimia, dan transportasi. Sementara sektor perdagangan luar negeri juga terbatas kontribusinya, seiring tekanan tarif resiprokal Amerika Serikat dan pelemahan harga sejumlah komoditas. Di sisi lain, impor Indonesia diproyeksikan meningkat, terutama dari Tiongkok, akibat pergeseran pasar global dan kelebihan kapasitas manufaktur negara mitra.
BACA JUGA
Untuk mengantisipasi situasi ini, Akbar menekankan pentingnya efektivitas belanja ekonomi. “Setiap rupiah yang dibelanjakan, termasuk oleh pemerintah, harus menghasilkan output lebih besar,” ujarnya. Ia juga menyoroti APBN 2026 yang defisit Rp689,1 triliun. Meski ekspansif, belanja pemerintah belum sepenuhnya pro-pertumbuhan. Misalnya, pengurangan belanja modal hingga 20% berpotensi menekan pengganda ekonomi yang muncul dari pembentukan modal tetap bruto.
Akbar mencontohkan, program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi kontribusi terhadap PDB, tetapi efek penggandanya relatif terbatas dan manfaat ekonominya muncul secara jangka panjang. “Perlu mendesain program agar efek pengganda dan spillover ekonomi lebih kuat,” tambahnya.
Untuk pertumbuhan jangka panjang, Akbar menekankan tiga strategi utama:
Meningkatkan belanja modal pemerintah serta mempercepat realisasi proyek investasi.
Mendorong investasi swasta dan PMA berkualitas, termasuk pengalihan fokus ke sektor yang menurunkan biaya ekonomi seperti logistik, energi, dan konektivitas.
Menyelaraskan program sosial dan pembangunan dengan agenda produktivitas, termasuk memperbaiki perilaku pelaku ekonomi melalui institusi yang lebih sehat.
“Lebih penting dari sekadar menambah belanja atau investasi, perubahan perilaku ekonomi melalui aturan main (rules of the game) yang lebih sehat menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan,” pungkas Akbar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Harga Emas Antam 8 April Melonjak Tajam, Nyaris Sentuh Tiga Juta
- Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Ini Rencana Bank Indonesia
- Harga Emas Antam Melonjak, Tembus Rp2,85 Juta per Gram
- Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
- Forbes April 2026: Kekayaan Elon Musk Tembus Rp13.746 Triliun
Advertisement
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Melonjak, Ini Harga Emas Antam, UBS dan Galeri24 Kamis 9 April 2026
- KUHP Baru Ubah Arah Hukum Bisnis, Dunia Usaha Diminta Siap
- Rangkaian Poin Penting dari Peresmian Pabrik Listrik di Magelang
- Plastik Naik Dua Kali Lipat, Usaha Jogja Mulai Tertekan
- Utang Dijaga Ketat di Tengah Sinyal Ekonomi Menguat
- Harga Kedelai Naik Perajin Tempe Dorong Produksi Kedelai Lokal
- Prabowo Gagas Pusat Avtur dari Sawit dan Jelantah
Advertisement
Advertisement






