Advertisement
Aset Perbankan DIY Tembus Rp115 Triliun pada Awal 2026
Kantor Bank Indonesia. / Bisnis.com
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset perbankan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai sekitar Rp115 triliun hingga Januari 2026. Angka tersebut tumbuh 3,86% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp111 triliun.
Ketua Otoritas Jasa Keuangan DIY Eko Yunianto menjelaskan pertumbuhan sektor perbankan di DIY masih menunjukkan tren positif meskipun lajunya berada di bawah rata-rata nasional.
Advertisement
Menurutnya, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di DIY hingga Januari 2026 tercatat mencapai Rp96,8 triliun, atau tumbuh sekitar 4,38% secara tahunan.
“Secara umum kinerja perbankan di DIY masih menunjukkan pertumbuhan positif, meskipun laju pertumbuhannya masih berada di bawah rata-rata nasional,” ujarnya dalam jumpa pers di Royal Ambarrukmo, Rabu (11/3/2026).
BACA JUGA
Di sisi lain, penyaluran kredit perbankan di DIY tercatat sebesar Rp65,507 triliun hingga Januari 2026, tumbuh sekitar 3,59% dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, kredit untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami sedikit penurunan. Nilainya tercatat Rp27,53 triliun, turun sekitar 2,82% dari posisi Januari 2025 yang mencapai Rp28,33 triliun.
Rasio Kredit dan Risiko Perbankan
Eko menjelaskan loan to deposit ratio (LDR) perbankan di DIY sedikit menurun menjadi 67,63%, dibandingkan Januari 2025 yang mencapai 68,15%.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) mengalami peningkatan menjadi 5,10%, dari posisi 4,08% pada Januari 2025.
Meski demikian, NPL pada kredit UMKM justru menunjukkan perbaikan, dari sebelumnya 6,34% menjadi 5,17% pada Januari 2026.
Perbankan Konvensional dan Syariah
Jika dirinci berdasarkan jenis perbankan, aset bank konvensional di DIY tumbuh sekitar 4,34%, sementara perbankan syariah hanya mencatat pertumbuhan 0,35%.
Untuk Dana Pihak Ketiga, perbankan konvensional mencatat pertumbuhan sebesar 5,14%, sedangkan perbankan syariah justru mengalami penurunan sekitar 1,39%.
Dari sisi penyaluran kredit, perbankan konvensional tumbuh sekitar 3,29%, sementara perbankan syariah tumbuh lebih tinggi sebesar 5,67%.
Sektor Ekonomi Penyerap Kredit Terbesar
Penyaluran kredit di DIY didominasi oleh beberapa sektor ekonomi utama. Sektor rumah tangga menjadi penyerap kredit terbesar dengan nilai sekitar Rp16,87 triliun atau 25,77% dari total kredit.
Selanjutnya disusul oleh:
Perdagangan besar dan eceran sebesar Rp13 triliun atau 19,86%
Konstruksi sebesar Rp9,78 triliun atau 14,94%
Industri pengolahan sebesar Rp4,3 triliun atau 6,61%
Bukan lapangan usaha sebesar Rp3,9 triliun atau 6,06%
“Industri pengolahan tercatat Rp4,3 triliun, secara persentase adalah 6,61%. Dan yang kelima adalah bukan lapangan usaha dengan outstanding Rp3,9 triliun, secara persentase 6,06%,” jelas Eko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Mudik Kulonprogo 2026: BPBD Ingatkan Jalur Longsor dan Cuaca Ekstrem
Advertisement
Wisata Gunung Bromo Siap Sambut Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Advertisement
Berita Populer
- 7,2 Juta SPT Pajak 2025 Sudah Masuk, DJP Kejar Target 8,5 Juta
- Prabowo Targetkan Dividen BUMN Rp800 Triliun dari Danantara
- Celios: Program Makan Bergizi Gratis Picu Inflasi Pangan
- Airlangga: Indonesia Berpotensi Masuk 5 Besar Ekonomi Dunia pada 2050
- Harga Emas Antam Turun Rp45.000, Kini Rp3,042 Juta per Gram
- Bulog DIY Salurkan Bantuan Pangan ke 491 Ribu Warga
- Ekonom UMY: Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Harus Tekan Kemiskinan
Advertisement
Advertisement






