Advertisement

Perputaran Uang Lebaran di Jogja Diperkirakan Tembus Puluhan Triliun

Anisatul Umah
Sabtu, 28 Maret 2026 - 07:27 WIB
Maya Herawati
Perputaran Uang Lebaran di Jogja Diperkirakan Tembus Puluhan Triliun Suasana transaksi di salah satu lapak Pasar Beringharjo, Jogja. dok/arian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Perputaran uang selama Ramadan hingga Idulfitri di DIY diperkirakan melonjak hingga lebih dari Rp20 triliun, didorong belanja jutaan pemudik serta distribusi uang tunai dari perbankan.

Estimasi ini berasal dari kombinasi konsumsi pemudik yang masuk ke DIY dan penyaluran uang tunai oleh Bank Indonesia (BI) DIY yang mencapai triliunan rupiah sepanjang periode Lebaran 2026.

Advertisement

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menjelaskan tambahan perputaran uang tersebut dihitung di luar aktivitas ekonomi rutin masyarakat.

Ia menyebut jumlah pemudik ke DIY diperkirakan mencapai 8,2 juta orang, dengan rata-rata belanja Rp2,2 juta per orang. Dari perhitungan itu saja, nilai perputaran uang mencapai sekitar Rp18,04 triliun.

Di sisi lain, BI DIY menyiapkan uang tunai sebesar Rp4,99 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat. Hingga pertengahan Maret 2026, realisasi penyaluran mencapai sekitar Rp3,5 triliun.

Jika digabungkan, total tambahan perputaran uang selama Lebaran diperkirakan mencapai sekitar Rp21,54 triliun.

“Suntikan dari BI Rp4,99 triliun, perkiraan ada 8,2 juta pemudik kali Rp2,2 juta katakanlah itu rata-ratanya, itu berapa triliun,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Meski nilainya besar, Susilo menilai angka tersebut belum tentu meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini karena jumlah pemudik diperkirakan sedikit menurun, meskipun di sisi lain terjadi kenaikan harga barang.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi, terutama di sektor kuliner dan oleh-oleh yang masih merasakan dampaknya.

Menurutnya, daya beli masyarakat sejak pertengahan 2024 menunjukkan tren penurunan, dipicu berbagai faktor seperti pemutusan hubungan kerja di sektor riil dan gejala deindustrialisasi.

“Banyaknya PHK di sektor riil, beberapa industri juga mengalami deindustrialisasi, kemudian jumlah pekerjanya turun kena PHK sehingga kemudian daya belinya menurun,” jelasnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan ketidakpastian geopolitik global, yang membuat masyarakat cenderung menahan konsumsi.

“Bahwa penurunannya ini pada level tidak signifikan, tapi tetap turun. Ini mencerminkan kondisi ekonomi makro kita memang demikian dan ekonomi global kita memang juga belum sepenuhnya pulih,” lanjutnya.

Sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY telah mengalokasikan Rp4,99 triliun untuk memenuhi kebutuhan uang tunai selama Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.

Kepala Unit Pengelolaan Rupiah BI DIY, Rachmad Hendrawan, menyebut sebagian dana juga disalurkan melalui layanan kas keliling dan terpadu.

“Mungkin khusus dari kegiatan kas penyerapan yang kita capai sekitar Rp28 miliar,” tuturnya.

Selain itu, BI DIY juga bersinergi dengan 34 bank umum di wilayah DIY dengan membuka layanan penukaran uang di berbagai kantor cabang, guna menghindari antrean dan memastikan masyarakat mendapatkan uang layak edar secara aman dan gratis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Jadwal Lengkap KRL Jogja-Solo, Sabtu 28 Maret 2026

Jadwal Lengkap KRL Jogja-Solo, Sabtu 28 Maret 2026

Jogja
| Sabtu, 28 Maret 2026, 01:17 WIB

Advertisement

Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat

Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat

Wisata
| Kamis, 26 Maret 2026, 13:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement