Ponsel Submerek Ramaikan Pasar

Ponsel Submerek Ramaikan PasarIlustrasi pembayaran menggunakan QR Code dengan ponsel pintar - Flickr
22 Oktober 2018 11:10 WIB Newswire Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Hingga kuartal ketiga 2018 ini tercatat setidaknya ada tiga vendor baru yang masuk ke pasar Indonesia yakni Honor, Pocophone, dan Realme.

Di pasar global, ketiganya merupakan submerek dari vendor-vendor besar yang lebih dulu merajai pasar. Honor merupakan anak Huawei, Pocophone adalah turunan Xiaomi, sementara Realme submerek dari Oppo.

Honor, misalnya, jika secara global Huawei lebih dikenal sebagai vendor yang fokus di produk kategori mid-range ke atas, Honor merupakan senjata pabrikan asal Tiongkok tersebut untuk mendisrupsi pasar low-end (US$100-US$200 per unit).

Kendati mereka telah meluncurkan enam produk dengan rentang harga yang beragam mulai dari Rp1 jutaan per unit hingga di atas Rp7 juta sejak Maret, Presiden Honor Indonesia James Yang menegaskan bahwa fokus mereka saat ini adalah pasar ponsel dengan kategori lowend.

“Strategi awalnya memang sengaja membawa produk dari berbagai level untuk melihat pasar menyukai yang mana. Namun, untuk saat ini Honor akan fokus pada market di harga kurang dari Rp3 juta,” tuturnya, belum lama ini.

Sejatinya, secara status, di pasar Indonesia posisi Honor dan Huawei tak terikat satu sama lain, yang menegaskan kehadiran mereka di Tanah Air sebagai merek yang mandiri. Honor memilih distributor PT iCool International Indonesia, berbeda dengan Huawei yang hadir melalui PT GND Imperium Perkasa.
Merek Pocophone dari Xiaomi melakukan yang sebaliknya, yakni dengan berusaha “naik kelas”. Berbeda dengan Xiaomi yang merajai pasar lowend, Pocophone berusaha lepas dari citra tersebut dengan menyasar para penggemar ponsel flagship.

Meskipun demikian, Pocophone tetap mengusung konsep yang serupa dengan Xiaomi yakni menghadirkan produk dengan harga di bawah rata-rata pasar kelasnya.

Saat peluncuran Pocophone beberapa waktu lalu, Head of Pocophone Global Alvin Tse menuturkan Pocophone diposisikan sebagai perpanjangan tangan Xiaomi untuk meraih pasar yang berbeda dibandingkan dengan produk dari lini utama sehingga mereka tak khawatir kedua merek ini akan berebut pasar.

Adapun, sebagai submerek Pocophone menempel erat Xiaomi, mulai dari proses produksi hingga kanal distribusi dan layanan purnajual. Di Indonesia mereka akan menggunakan semua kanal yang sama dengan Xiaomi. Berbeda dengan merek pesaing yang memisahkan brand utama dengan sub-brand mereka di pasar Tanah Air.

“Pocophone dan Xiaomi hadir dengan filosofi produk yang berbeda. Xiaomi punya produk untuk beragam segmen, sementara kami fokus pada produk yang mengandalkan kecepatan dan performa,” terang Tse.

Sebagai yang paling muda, Realme tampaknya tak takut bersaing dengan vendor lain yang telah lebih dulu hadir. Anakan Oppo ini memilih pasar dengan pangsa terbesar sekaligus kompetisi yang paling padat yakni kategori lowend dan midrange.

Product Manager Realme Indonesia Felix Christiana mengaku optimistis akan mampu merebut pasar dan mencatatkan penjualan produk yang tinggi dengan mengandalkan spesifikasi mumpuni dengan harga yang terjangkau.
“Kami yakin karena punya target pasar sendiri [generasi muda], dan target itu populasinya besar,” kata Wang.

Associate Market Analyst IDC Indonesia Risky Febrian mengatakan submerek dari vendor-vendor tersebut merupakan strategi untuk memasarkan produk dengan citra merek yang berbeda dengan merek utama mereka.

“Tentu untuk mencapai target market yang lebih luas,” katanya, baru-baru ini.

Risky menuturkan bahwa merek-merek anyar ini punya potensi untuk mendisrupsi pasar tujuan masing-masing vendor.

Namun, menurutnya, vendor memiliki pekerjaan besar dalam membangun kesadaran merek atau brand awareness di pasar lokal demi mendapatkan posisi top vendor yang lebih dulu diduduki merek-merek lain, termasuk merek “saudara” mereka sendiri.(Bisnis Indonesia/Dhiany Nadya Utami)

Sumber : bisnis.com