Triwulan III Kinerja Ekonomi DIY Tumbuh Positif

Triwulan III Kinerja Ekonomi DIY Tumbuh PositifKantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY, Budi Hanoto - Harian Jogja/Desi Suryanto
05 Desember 2018 10:33 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Memasuki Triwulan III/2018, perekonomian DIY terus melanjutkan pertumbuhan positif. Tercatat ekonomi DIY tumbuh sebesar 6,03% (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,90%; yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya (5,42%; yoy).

Capaian Triwulan III/2018 merupakan yang tertinggi dalam empat tahun terakhir, serta lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pertumbuhan Nasional (5,17%; yoy) dan Jawa (5,74%; yoy). Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY, Budi Hanoto mengatakan kinerja positif perekonomian DIY tidak terlepas dari sinergi kebijakan yang kuat oleh pemerintah, pemerintah daerah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berbagai otoritas lainnya. Sinergi kebijakan tersebut didukung oleh optimisme perbankan, dunia usaha, investor, dan akademisi yang semakin solid sehingga mampu memperkuat ketahanan dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan, di tengah kondisi ekonomi global yang kurang kondusif.

Budi mengakui 2018 merupakan tahun yang penuh tantangan. Perekonomian global tumbuh tidak merata dan penuh ketidakpastian. Ia memprediksi kondisi ini kemungkinan masih akan berlanjut pada 2019 dan tahun berikutnya. Budi menuturkan ada tiga hal penting yang perlu dicermati, yaitu pertumbuhan ekonomi dunia yang kemungkinan akan melandai ke 3,7%, kenaikan suku bunga bank sentral AS The Fed akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya, dan ketidakpastian di pasar keuangan global mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara emerging markets. Perkembangan global tersebut berdampak pada kuatnya mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara emerging markets, termasuk Indonesia.

Di tengah perkembangan ekonomi global yang tidak kondusif tersebut, kinerja perekonomian Indonesia pada 2018 cukup baik. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai sekitar 5,1% ditopang oleh kuatnya permintaan domestik yang tumbuh sekitar 5,5%, sedangkan investasi diperkirakan tumbuh sebesar 6,8%. Inflasi tetap rendah sehingga mendukung peningkatan daya beli masyarakat. Dengan perkembangan harga hingga November, inflasi pada akhir tahun diperkirakan sekitar 3,2%, di bawah titik tengah kisaran 3,5% + 1%. Semua kelompok inflasi, baik inflasi inti, harga pangan dan komoditas yang harganya diatur Pemerintah terkendali. "Oleh karena itu, sinergi yang berhasil dilakukan selama tahun 2018 perlu semakin dipererat pada tahun 2019 dan tahun-tahun berikutnya," katanya dalam rilis, Selasa (4/12).

Maka berdasarkan latar belakang dan dampak positif sinergi bauran kebijakan, KPw BI DIY akan menyelenggarakan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) dengan tema Sinergi untuk Ketahanan Dan Pertumbuhan pada Rabu (5/12) berkolaborasi dengan ISEI cabang Yogyakarta dan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta. PBTI 2018 juga dirangkai dengan seminar Prospek Perekonomian DIY di Tahun 2019. Menurut Budi, PBTI merupakan agenda tahunan untuk menyampaikan kinerja, evaluasi dan outlook makro ekonomi Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan dan ketahanan ekonomi Indonesia.

Pertemuan Tahunan ini tidak saja sebagai akuntabilitas BI kepada publik dalam pencapaian kinerja perekonomian Indonesia, tetapi juga menjadi momentum strategis dalam menyampaikan asesmen kondisi makro ekonomi, respons kebijakan, prospek dan tantangan perekonomian ke depan. "Seminar dan diskusi dalam PTBI juga memberikan gambaran kepada stakeholders mengenai prospek dan tantangan dalam perekonomian yang dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan dan pengambilan keputusan bisnis dan investasi di daerah," ujarnya.