Sultan HB X Bertemu Dubes Chile, Bahas Kerja Sama Besar
Sultan HB X bertemu Dubes Chile bahas kerja sama pendidikan, budaya, hingga sister province antara Jogja dan Chile.
SPBU Pertamina. Ilustrasi/Solopos-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, JOGJA—PT Pertamina (Persero) bersiap memperluas distribusi produk Bahan Bakar Minyak (BBM) barunya Pertamax Green 95 atau campuran Pertamax (RON 92) dengan 5% Etanol. Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan tidak masalah jika Pertamina berencana memperluas produk barunya tersebut.
Justru kebijakan ini memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk membeli BBM berkualitas. Akan tetapi Fahmy berpandangan produk baru ini jangan dijadikan pengganti BBM jenis Pertalite. Jika masyarakat dipaksa untuk membeli BBM yang mahal akan berdampak pada inflasi. "Diperluas silahkan, asal bukan mengganti Pertalite," ucapnya, Rabu (29/5/2024).
Fahmy berpandangan masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan Pertalite akan berpikir dua kali untuk membeli Pertamax Green 95. Sehingga meskipun diperluas tidak serta merta membuat masyarakat beralih. Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah konsumen Pertalite dan Solar.
Lebih lanjut dia mengatakan perluasan Pertamax Green 95 memang perlu dimulai. Seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat dan kesadaran masyarakat untuk menggunakan Pertamax Green 95.
"Kalau harga kan dipatok Rp13.500 lebih mahal dari Pertamax," jelasnya.
Baca Juga
Setelah Jakarta & Surabaya, Pertamax Green 95 Bakal Dijual di Jawa Tengah
Pertamax Green 95 Diperluas, Nasib Pertalite di Ujung Tanduk
Hiswana Migas DIY Perkirakan Jualan Pertamax Green 95 Tidak Selaris Pertamax, Ini Sebabnya..
Sebelumnya, Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIY menyebut potensi penjualan Pertamax Green 95 tidak akan selaris penjualan Pertamax (RON 92). Salah satu penyebabnya adalah terkait dengan daya beli masyarakat.
Ketua Hiswana Migas DIY, Aryanto Sukoco mengatakan selain daya beli, saat ini belum banyak mobil yang secara spesifikasi disarankan menggunakan BBM dengan RON tersebut. "Tentu potensi penjualannya [Pertamax Green 95] di bawah Pertamax," ucapnya.
Dia mengatakan jualan BBM RON tinggi memang lebih menguntungkan. Di mana margin atau keuntungan penjualan BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pasti Pas Good untuk Solar 3,77%, Pertalite margin 3,55%, dan Pertamax 4,75%.
Menanggapi adanya SPBU di Jakarta yang tidak lagi menjual Pertalite menurutnya harus dilihat dari sisi lokasi SPBU. Sebab di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya daya beli masyarakat sudah cukup kuat.
"Mungkin SPBU mulai memilih untuk menjual Pertamax Series saja," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X bertemu Dubes Chile bahas kerja sama pendidikan, budaya, hingga sister province antara Jogja dan Chile.
George Russell merebut pole position GP Austria 2026 di Red Bull Ring. Kualifikasi diwarnai kontroversi kecelakaan Max Verstappen pada akhir sesi Q3.
FIFA menolak permintaan Timnas Prancis mengenakan pita hitam untuk menghormati ibu Didier Deschamps. Prancis tetap menang 4-1 atas Norwegia.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Jadwal DAMRI Jogja ke Bandara YIA 2026 lengkap dengan tarif dan titik keberangkatan. Cek rute dan jam terbaru di sini.
Raul Fernandez memenangkan Sprint Race GP Belanda 2026 di Assen. Klasemen MotoGP makin ketat dengan Bezzecchi masih memimpin dari Jorge Martin.