Profil Blok Natuna D-Alpha Punya Gas 222 TCF, Dikembangkan Hashim Djojohadikusumo
Arsari Group memenangkan lelang Natuna D-Alpha dengan komitmen Rp1,83 triliun. Blok ini memiliki potensi gas hingga 222 TCF.
Ilustrasi investasi./Bisnis Indonesia
Harianjogja.com, JOGJA—Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan DIY menilai peminat instrument savings bond retail (SBR) seri SBR008 cukup tinggi. Peminat investasi ini beragam, kendati demikian generasi milenial seperti mahasiswa mulai melirik
“Masa penawaran SBR 008 ini adalah 5-19 September 2019. Dari beberapa rekan penjual, kami dapat info untuk DIY cukup banyak yang berminat untuk beli SBR008 ini. Apalagi ada beberapa tekfin (tekologi finansial) yang jadi agen penjual,” kata Kepala BEI DIY, Irfan Noor Riza, Jumat (13/9).
Irfan memprediksi produk tersebut akan banyak diminati oleh khususnya generasi milenial DIY, karena mudah dan relatif terjangkau. Menurut info dari beberapa rekan agen penjual dari sisi sekuritas, jika bicara DIY kebanyakan yang beli SBR008 ini adalah investor institusi seperti dana pensiun (dapen). Namun ada juga dari investor ritel seperti pengusaha, pegawai, ibu rumah tangga dan mahasiswa.
“Untuk mahasiswa kami lihat mulai banyak yang beli. Kebanyakan mahasiswa yang sudah menjadi investor pasar modal di DIY, mencoba ikut beli produk ini. Kalau dilihat jumlah investor tercatat di DIY per Agustus 2019 adalah 42.978 investor, dan 35 persennya adalah kaum muda atau mahasiswa. Dari 35 persen itu ya sekitar 5 persen mulai mencoba membeli instrumen investasi yang namanya SBR008 ini,” ujarnya.
Menurut dia, yang masih menjadi tantangan saat ini adalah belum tersosialisasi dengan meluas produk ini. Ke depan pihaknya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyosialisasikannya produk ini secara masif. “Kami punya bebebrapa galeri investasi di kampus-kampus, dan kami akan merencanakan kegiatan edukasi terpadu. Harapan kami ke depan, semakin banyak masyarakat DIY yang dapat menikmati instrumen investasi SBR ini,” katanya.
Selama Sepekan
Pemesanan SBR008 mencapai Rp713,68 miliar atau 35,68% dari batas pemesanan Rp1,28 triliun pada tujuh hari jelang berakhirnya masa penawaran. Dikutip dari laman Investree, Kamis (12/9), penawaran berjalan sejak 5 September hingga 19 September 2019. Dalam sepekan, Rp713,68 miliar masuk ke instrumen surat utang ritel bertenor 2 tahun itu dari batas pemesanan Rp1,28 triliun.
Seperti diketahui, Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dari 5,75% menjadi 5,5% pada Agustus 2019. Oleh karena itu, tingkat kupon yang ditawarkan pun sebesar 7,2%. Tingkat kupon ini lebih rendah dibandingkan dengan instrumen yang ditawarkan sebelumnya yakni SBR007 sebesar 7,5% dan seri ST004 dengan kupon 7,95%. Tingkat kupon ini menjadi tingkat kupon dasar sehingga bila Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuannya, investor tetap mendapat tingkat kupon yang sama.
Penawaran SBR008 merupakan penawaran SBN ritel yang kedelapan dari rencana 10 kesempatan penawaran di tahun ini.
Sebelumnya, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto mengatakan penurunan kupon tak akan mengganggu minat investor. Alasannya, investor memiliki alternatif instrumen investasi yang bisa menambah portofolio dengan nominal transaksi yang cukup terjangkau. Seperti diketahui, minimal transaksi sebesar Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar dengan tenor dua tahun.
Pemerintah berencana melakukan 10 kali lelang sepanjang tahun ini. Hingga saat ini, dengan penawaran tujuh instrumen, Pemerintah telah mendapatkan dana sebesar Rp38,32 triliun. “Responsnya akan cukup bagus karena semakin banyak produk (SBN ritel) keluar, masyarakat semakin mengerti produk ini,” katanya.
Mengapa Berinvestasi melalui SBR?
Keterangan:
*)Mengambang: Besaran kupon SBR akan disesuaikan dengan perubahan BI 7 Day Reverse Repo Rate setiap tiga bulan sekali.
*)Kupon minimal: Tingkat kupon pertama yang ditetapkan akan menjadi kupon minimal yang berlaku sampai dengan jatuh tempo.
**) Early Redemption merupakan fasilitas yang memungkinkan investor menerima sebagian pelunasan pokok SBR008 oleh pemerintah sebelum jatuh tempo. Fasilitas ini hanya dapat dimanfaatkan oleh investor dengan minimal kepemilikan Rp2 juta di setiap mitra distribusi dan jumlah maksimal yang dapat diajukan untuk early redemption adalah 50% dari total kepemilikan investor.
Sumber: Kemenkeu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Arsari Group memenangkan lelang Natuna D-Alpha dengan komitmen Rp1,83 triliun. Blok ini memiliki potensi gas hingga 222 TCF.
Nusa Penida menerapkan Smart Microgrid yang mengintegrasikan PLTS, BESS, dan PLTD untuk mengoptimalkan energi terbarukan.
Kredit perbankan tumbuh 13,58% pada Juli 2026, lebih cepat dari DPK 11,21% dan berpotensi menekan biaya dana serta NIM.
BPOM memanfaatkan AI untuk mempercepat penemuan obat, proses registrasi, sertifikasi, uji klinis, hingga melacak peredaran obat.
Dewa United mengalahkan PSS Sleman 2-1 dan naik ke puncak klasemen Super League 2026/27 dengan 10 poin.
Surat utang untuk penanganan krisis 1997-1998 telah lunas pada Agustus 2026. Suahasil menyebut pembayarannya memakai surplus BI.