ARTJOG, Sponsor, dan Seni Perlawanan yang Tetap Bergema
Perdebatan mengenai sponsor ARTJOG ramai bergulir di media sosial menjelang pembukaan pameran pada 19 Juni 2026 lalu. Warganet menyebut lebaran seni ini mulai k
Wisatawan membajak sawah di Desa Wisata Candran, Bantul/Ist-Dinas Pariwisata Bantul
Harianjogja.com, JOGJA—Desa wisata bisa menjadi salah satu destinasi alternatif saat berkunjung ke DIY. Hanya saja, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dirampungkan agar desa wisata di DIY lebih berdaya saing dengan destinasi wisata lainnya.
Pegiat Wisata Kerakyatan sekaligus Peneliti Pusat Studi Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada (UGM), Destha Titi Raharjana mengatakan pekerjaan rumah yang pertama yakni harus punya aspek kelembagaan dan legalitas yang jelas. Untuk memastikan hal tersebut diperlukan dukungan dari pemerintah kalurahan serta instansi terkait.
Dia menyebut masalah kelembagaan akan diikuti dengan kesiapan dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pengelola desa wisata.
Menurut dia, diperlukan tim inti dalam mengelola desa wisata. Tim ini bertugas mengelola desa wisata setiap hari serta monitoring dan evaluasi.
Pasalnya, desa wisata mesti siap didatangi pengunjung kapan saja. "Sayangnya sebagian desa wisata dijalankan secara sambilan," ucapnya, Rabu (19/6/2024).
Selain itu, desa wisata perlu memiliki master plan yang di dalamnya memuat business plan. Setidaknya ada visi yang akan dicapai sepuluh tahun ke depan.
Penataan dan pengembangan, baik fisik serta nonfisik bisa berjalan sesuai rencana. Termasuk dalam mencari dukungan anggaran. “Pengelola desa wisata juga paham tentang produk pengetahuan yang dimiliki. Pengelola harus mampu mengemas identitas yang dimiliki desa tersebut.
Tujuannya agar tidak homogen dengan desa tetangga. Diimbangi dengan kemampuan berinovasi terhadap produk wisata berbasis sumber daya lokal desa tersebut,” ucap dia.
Berikutnya, kata dia, adalah pemasaran. Menurutnya hal ini adalah kunci penting dalam memajukan desa wisata, salah satunya lewat pengembangan jejaring untuk memasarkan produk wisata.
Diakuinya, saat ini belum semua desa wisata punya tim khusus pemasaran. Pemasaran masih dianggap beban karena harus mengeluarkan modal.
Dhesta menjelaskan pemasaran bisa murah dilakukan lewat aplikasi atau media sosial. Rendahnya keterampilan digital marketing juga masih jadi kendala. Apalagi desa wisata yang pengelolaannya tidak dipegang anak muda.
Lebih lanjut dia mengatakan aktivasi di dunia digital lewat konten yang beragam masih minim. Demikian juga story telling dan orisinalitas cerita tentang desa. "Branding dapat dibangun dari toponim desa, atau mitos dan legenda yang tumbuh sebagai bentuk local wisdom," ucap dia.
Menurut Dhesta, DIY berpeluang besar pengembangan wisata minat khusus. Sehingga pengembangan pariwisata tidak terjebak pada mass tourism saja. Paket wisata tematik bisa dikembangkan dari empat kabupaten dan satu kota yang ada di DIY.
“Wisata tidak melulu Malioboro, DIY punya Taman Nasional Gunung Merapi, Geopark Gunung Sewu, Sand Dune, hingga pesona Menoreh. Ini semua bisa jadi lahan dan laboratorium pengembangan pariwisata,” kata dia.
Menurutnya yang jadi masalah adalah minimnya inovasi dalam mengemas paket wisata berbasis edukasi. Berbasis minat wisatawan. Eksplorasi tema tertentu bisa dikembangkan, misalnya kawasan Kraton Ngayogyakarta.
BACA JUGA: Desa Wisata di DIY Tak Bertahan Lama, Ini Penyebabnya
Industri perjalanan bisa menawarkan skema kepada wisatawan untuk merasakan dan mendapatkan pengalaman baru menjadi tamu raja. "Kemasan co-creation, dari pihak penyedia jasa yang menawarkan keunikan dan tata cara minum teh di kampung Patehan misalnya, dapat dijadikan produk minat khusus," tuturnya.
Wisatawan juga bisa dikenalkan budaya jawa yang masih dipelihara sampai saat ini melalui abdi dalem yang punya berbagai profesi. Ini bisa jadi modal kultural untuk mendekatkan wisatawan saat berkunjung ke DIY.
Dia menjelaskan secara umum wisatawan juga belum mengenal lebih dalam tentang Jogja Istimewa. Ini jadi tantangan bagi penyedia jasa perjalanan menawarkan Beyond Jogja. "Mengajak wisatawan jauh menikmati dan merasakan pengalaman baru selama di Jogja."
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forkom Desa/Kampung Wisata & Pokdarwis DIY, Andi Irawanto mengatakan desa wisata di DIY jumlahnya mencapai lebih dari 200, tersebar di empat kabupaten dan satu kota.
Menurutnya, lebih dari 80% desa wisata yang ada di DIY masih eksis. “Kondisi desa wisata di DIY berbeda-beda, ada yang sepi pengunjung dan ramai pengunjung. Kondisi ini utamanya dipengaruhi oleh faktor SDM. Di DIY ini ada lebih dari 200 desa wisata," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perdebatan mengenai sponsor ARTJOG ramai bergulir di media sosial menjelang pembukaan pameran pada 19 Juni 2026 lalu. Warganet menyebut lebaran seni ini mulai k
Sebanyak 100 pamong kalurahan Sleman purna tugas pada 2026. Pengisian jabatan dilakukan bertahap sesuai waktu kekosongan.
AESI mendorong optimalisasi lahan untuk mengejar target PLTS 100 GW dengan skema bertahap, termasuk rooftop dan pembangkit skala besar.
Kemenhub memperluas ETLE Hub ke 51 titik untuk mengawasi angkutan barang dan mengejar target zero ODOL pada 2027.
Puslabfor Bareskrim Polri menemukan 30 item senjata, amunisi, dan sparepart saat olah TKP sekolah di Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Bapanas memperketat pengawasan 40 merek beras fortifikasi di ritel modern. Lebih dari 100 sampel diuji dan izin edar bisa dicabut jika melanggar.