Asita DIY Sebut Kelok 23 Bisa Buka Koridor Wisata Baru
Asita DIY menyebut Kelok 23 berpotensi membuka koridor wisata Bantul-Gunungkidul dan memperpanjang lama tinggal wisatawan di DIY.
Kondisi arus lalu lintas di Jalan Malioboro, Minggu (26/1/2025)./Harian Jogja-Alfi Annissa Karin
Harianjogja.com, JOGJA—Ekonom memprediksi perputaran uang selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 di DIY bisa menembus Rp9 triliun. Proyeksi ini seiring lonjakan kunjungan wisatawan yang diperkirakan mencapai 9 juta orang.
Ketua Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Fakultas Bisnis UKDW, Purnawan Hardiyanto, memproyeksikan perputaran uang yang masuk ke DIY mencapai angka triliunan rupiah.
Purnawan menjelaskan, jika menggunakan asumsi paling rendah (konservatif), dampak ekonominya sudah sangat luar biasa bagi hotel, restoran, hingga UMKM. Berikut adalah rincian kalkulasinya:
- Jumlah Wisatawan: 9 juta orang.
- Durasi Wisata: Rata-rata 4 hari.
- Pengeluaran per Hari: Rp250.000 per orang (makan, penginapan, transport lokal).
- Total Pengeluaran per Orang: Rp1.000.000.
- Estimasi Total Uang Masuk: Rp9 Triliun.
"Angka ini baru perhitungan konservatif. Sangat mungkin pengeluaran riil wisatawan di DIY selama liburan Nataru lebih dari Rp9 triliun," ujar Purnawan, Jumat (2/1/2026).
DIY dinilai memiliki paket lengkap yang sulit ditandingi daerah lain. Beberapa keunggulan yang membuat wisatawan terus berdatangan antara lain:
- Variasi Destinasi: Mulai dari gunung (lava tour), pedesaan, pantai, candi, keraton, hingga museum dan wisata buatan baru.
- Harga Terjangkau: Pilihan hotel dan kuliner bervariasi dengan harga yang ramah di kantong.
- Aksesibilitas: Mudah dijangkau dengan pesawat, kereta api, bus, maupun kendaraan pribadi.
- Fasilitas Kesehatan: Ketersediaan rumah sakit berkualitas untuk keadaan darurat.
- Multiplier Effect: Dari Pesawat hingga Tukang Becak
Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo, menambahkan bahwa jika angka kunjungan benar-benar menyentuh 9 juta orang (dua kali lipat dari proyeksi awal 4,5 juta), maka terjadi multiplier effect yang luar biasa.
"Wisatawan pasti belanja. Mulai dari konsumsi, transportasi, komunikasi, hingga oleh-oleh. Semua moda transportasi merasakan dampaknya, mulai dari pesawat hingga ojol dan becak," jelas Susilo.
Ia merujuk pada data 2024, di mana rata-rata konsumsi per wisatawan di DIY mencapai Rp2,2 juta. Jika angka ini dikalikan 9 juta wisatawan, maka jumlah uang yang berputar secara nominal jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Tantangan Menuju "Quality Tourism"
Meski secara kuantitas sukses besar, Susilo menekankan pentingnya beralih ke quality tourism secara bertahap. Fokusnya bukan lagi sekadar jumlah kepala yang datang, melainkan seberapa besar belanja (spending) yang dikeluarkan wisatawan.
"Pariwisata di momen hari besar memang bersifat mass tourism. Namun ke depan, Pemda dan pelaku ekonomi harus bersinergi meningkatkan kualitas destinasi agar wisatawan tidak hanya datang sekali, tapi terus kembali (repeat order)," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asita DIY menyebut Kelok 23 berpotensi membuka koridor wisata Bantul-Gunungkidul dan memperpanjang lama tinggal wisatawan di DIY.
Komisi C DPRD DIY mengecek talud bronjong 74 meter di Kali Kuning Sleman sebagai antisipasi erosi dan longsor saat musim hujan.
Krisna Septiana lolos final kayak tunggal putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 meski finis peringkat 15 pada semifinal.
Polisi memperluas pemeriksaan kasus dugaan pungli food truck di Alkid Jogja. Hingga 30 September 2026, 14 orang telah dimintai keterangan.
Kemarau di Sleman diprediksi lebih panjang hingga Desember. DP3 meminta petani mengatur pola tanam dan mengantisipasi keterbatasan air.
Jalur pendakian Torean dan Senaru Gunung Rinjani masih ditutup sementara setelah kebakaran berdampak pada 1.098,75 hektare kawasan.