IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Investor Kabur ke Aset Aman

Newswire
Newswire Rabu, 03 Juni 2026 13:37 WIB
IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Investor Kabur ke Aset Aman

Foto ilustrasi perdagangan saham. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA — Tekanan besar melanda pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok tajam hingga hampir 5 persen pada perdagangan Rabu (3/6/2026), dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat investor memilih keluar dari aset berisiko.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG melemah 305,94 poin atau 4,94 persen ke level 5.889,48 pada penutupan sesi I. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan merata, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks.

Pengamat pasar modal, Elandry Pratama, menjelaskan bahwa kondisi ini mencerminkan perubahan sikap investor yang kini cenderung menghindari risiko (risk-off). Dana yang sebelumnya masuk ke pasar saham mulai dialihkan ke instrumen yang lebih aman.

“Tekanan terjadi cukup merata, khususnya pada saham big caps yang punya bobot besar terhadap indeks, sehingga dampaknya signifikan ke IHSG,” ujarnya, Rabu (3/6/2026)

Dari faktor domestik, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu pemicu utama. Kurs yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi makro serta potensi keluarnya dana asing (capital outflow).

Tak hanya itu, tekanan teknikal juga memperburuk situasi. Penembusan level support penting membuat aksi jual semakin agresif di pasar.

Sementara dari sisi global, meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia ikut mendorong investor bersikap lebih hati-hati. Sentimen negatif ini membuat aliran dana global bergerak menuju aset safe haven.

Elandry menilai, investor asing saat ini masih berada dalam posisi wait and see. Fokus utama mereka tertuju pada pergerakan rupiah, arah suku bunga global, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Selama volatilitas rupiah masih tinggi, arus dana asing cenderung akan tetap berhati-hati,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini lebih mencerminkan penyesuaian jangka pendek dibanding perubahan fundamental terhadap pasar Indonesia.

Dari sisi perdagangan, aktivitas pasar tetap tinggi. Tercatat frekuensi transaksi mencapai 1,79 juta kali dengan volume 26,37 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp14,89 triliun. Namun tekanan jual mendominasi, dengan 714 saham turun, hanya 35 saham menguat, dan 64 stagnan.

Ke depan, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan diperkirakan masih akan volatil. Sentimen global dan fluktuasi rupiah menjadi faktor penentu utama dalam jangka pendek.

Meski begitu, peluang rebound teknikal tetap terbuka jika tekanan jual mulai mereda dan aliran dana asing menunjukkan tanda stabilisasi.

“Investor sebaiknya selektif, fokus pada saham dengan fundamental kuat, serta tetap disiplin dalam manajemen risiko di tengah kondisi pasar yang sensitif,” tutup Elandry.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online