Rupiah Tembus Rp18.000, BI Gaspol Intervensi Pasar

Newswire
Newswire Kamis, 04 Juni 2026 14:27 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000, BI Gaspol Intervensi Pasar

Bank Indonesia - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS mendorong Bank Indonesia untuk meningkatkan langkah stabilisasi. Bank sentral memastikan intervensi di pasar valuta asing dilakukan lebih agresif demi menjaga keseimbangan dan kepercayaan pasar.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan kehadiran otoritas moneter di pasar akan terus diperkuat. Menurutnya, langkah ini penting agar mekanisme pasar tetap berjalan sehat dan nilai tukar mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujar Destry dalam keterangan resmi, Kamis (4/6/2026).

Strategi intervensi dilakukan secara berlapis, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri. Selain itu, BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan.

Tak hanya itu, BI juga memperkuat daya tarik instrumen keuangan domestik melalui kebijakan suku bunga yang lebih kompetitif. Langkah ini ditujukan untuk menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia di tengah tekanan global yang meningkat.

Destry mengungkapkan, pelemahan rupiah tidak lepas dari dinamika global, khususnya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi global sekaligus mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di sisi domestik, kebutuhan valuta asing juga masih tinggi, terutama untuk repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN). Hal ini turut memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski demikian, BI memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Cadangan devisa tercatat masih berada di level aman, yakni sebesar 146,2 miliar dolar AS per akhir April 2026.

Sebagai langkah jangka panjang, BI terus mendorong diversifikasi transaksi internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama ini telah dilakukan dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, hingga Uni Emirat Arab.

Nilai transaksi LCT menunjukkan tren positif. Hingga April 2026, nilainya mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS, mendekati capaian sepanjang tahun sebelumnya sebesar 25,7 miliar dolar AS.

BI optimistis kombinasi kebijakan intervensi, penguatan instrumen moneter, serta perluasan kerja sama internasional dapat menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online