Rupiah Terancam Tembus Rp19.000, Ini Penyebabnya

Dionisio Damara Tonce
Dionisio Damara Tonce Minggu, 07 Juni 2026 17:57 WIB
Rupiah Terancam Tembus Rp19.000, Ini Penyebabnya

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan berat di tengah memanasnya konflik geopolitik global serta spekulasi kebijakan moneter ketat Amerika Serikat. Dalam kondisi tersebut, rupiah bahkan berisiko melemah hingga menyentuh level Rp19.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa secara teknikal indeks dolar AS berpotensi menguat signifikan dalam sepekan ke depan. Ia memperkirakan pergerakan indeks dolar berada di kisaran 99 hingga 101, yang akan memberikan tekanan langsung terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dalam jangka pendek, rupiah diprediksi bergerak pada rentang Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS. Namun, volatilitas pasar dinilai bisa meningkat tajam jika ketidakpastian global terus berlanjut.

“Kalau gejolak geopolitik ini masih berlangsung dan Federal Reserve tetap mempertahankan suku bunga tinggi, maka peluang rupiah menembus Rp19.000 sangat besar,” ujarnya, Minggu (7/6/2026)

Geopolitik Timur Tengah Picu Lonjakan Dolar

Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan dolar AS adalah meningkatnya tensi di Timur Tengah. Ketegangan memuncak setelah militer Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas radar di Selat Hormuz yang kemudian dibalas oleh Iran.

Konflik di jalur strategis perdagangan global tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia. Dampaknya, harga minyak mentah jenis WTI diproyeksikan naik hingga menyentuh US$101 per barel. Kondisi ini biasanya mendorong investor global beralih ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Sinyal Suku Bunga Tinggi The Fed

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter AS juga menjadi pendorong utama penguatan dolar. Data tenaga kerja terbaru menunjukkan kondisi ekonomi AS yang masih solid, sehingga membuka peluang bagi The Fed untuk mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuan.

Pasar memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada kuartal ketiga dan keempat 2026. Kebijakan ini berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, menuju instrumen berbasis dolar AS.

Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar, terutama jika sentimen global tidak kunjung mereda dalam waktu dekat.

Waspada Volatilitas Pasar

Dengan kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter global, pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan sangat fluktuatif. Pelaku pasar diimbau untuk mencermati perkembangan global, terutama terkait konflik Timur Tengah dan arah kebijakan The Fed.

Jika kedua faktor tersebut terus memburuk, skenario pelemahan rupiah hingga menembus Rp19.000 per dolar AS bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan risiko nyata yang harus diantisipasi.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis