5 Faktor Rupiah Segera Menguat Versi Gubernur BI

Newswire
Newswire Selasa, 09 Juni 2026 19:17 WIB
5 Faktor Rupiah Segera Menguat Versi Gubernur BI

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjawab pertanyaan media dalam wawancara cegat (doorstop) usai Rapat Kerja (Raker) bersama Banggar DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

Harianjogja.com, JAKARTA—Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan bergerak menguat pada 2027. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyebut rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Proyeksi tersebut tertuang dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 yang dipaparkan dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).

Menurut Perry, terdapat lima faktor utama yang diyakini akan menopang penguatan rupiah pada tahun depan.

Faktor pertama adalah perbaikan kondisi ekonomi global. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia akan meningkat hingga 3,1 persen, seiring meredanya tensi geopolitik yang selama ini menekan pasar keuangan global.

“Dengan kondisi global yang lebih baik, aliran modal asing ke negara berkembang termasuk Indonesia diperkirakan meningkat,” ujar Perry.

Faktor kedua berasal dari fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap solid. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, defisit transaksi berjalan yang terjaga, serta cadangan devisa yang kuat menjadi penopang utama stabilitas rupiah.

Ia menegaskan, kombinasi indikator tersebut membuat Indonesia tetap menarik di mata investor global, terutama dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dunia.

Ketiga, penguatan sektor ekspor, khususnya dari komoditas sumber daya alam (SDA), juga menjadi faktor penting. Kebijakan tata kelola ekspor yang lebih terstruktur, termasuk melalui peran PT Danantara Sumber Daya Indonesia, diyakini mampu meningkatkan devisa hasil ekspor.

Peningkatan devisa ini tidak hanya berdampak pada pembiayaan pembangunan, tetapi juga memperkuat cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.

Faktor keempat adalah komitmen kuat BI dalam menjaga stabilitas rupiah. Bank sentral akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing serta menjalankan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk meredam gejolak.

Sementara faktor kelima adalah sinergi erat antara kebijakan fiskal dan moneter. Pemerintah dan BI terus menjaga daya tarik investasi portofolio asing melalui instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sekaligus memastikan likuiditas tetap terjaga.

“Dengan lima faktor tersebut, kami optimistis rupiah akan menguat di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS,” kata Perry.

Selain nilai tukar, BI juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 akan berada di kisaran 5,1 persen hingga 5,9 persen. Bahkan, bank sentral meyakini realisasi pertumbuhan berpotensi mendekati batas atas proyeksi tersebut.

Dari sisi inflasi, BI memperkirakan tetap terkendali dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen atau berada di rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen. Stabilitas harga ini didukung oleh sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).

Proyeksi optimistis ini memperkuat sinyal bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan kuat di tengah dinamika global, sekaligus membuka peluang bagi penguatan rupiah dan peningkatan investasi pada tahun mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online