Rupiah Melemah, Terseret Sentimen Timur Tengah dan Data AS

Newswire
Newswire Senin, 08 Juni 2026 11:17 WIB
Rupiah Melemah, Terseret Sentimen Timur Tengah dan Data AS

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (8/6/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 71 poin atau 0,39% ke posisi Rp18.107 per dolar Amerika Serikat (AS), dipengaruhi kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data perdagangan pagi, posisi rupiah tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.036 per dolar AS. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset dolar AS sebagai instrumen lindung nilai di pasar global.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang membebani pergerakan rupiah berasal dari eskalasi konflik terbaru di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

“Harga minyak yang kembali naik oleh eskalasi baru di Timteng juga ikut menekan rupiah,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Ketegangan tersebut meningkat setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal ke wilayah utara Israel pada Minggu (7/6) malam. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Teheran mengancam akan memberikan respons atas serangan udara Israel di kawasan pinggiran Beirut, Lebanon.

Sebelumnya, Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa militer Israel melakukan operasi udara di wilayah selatan Beirut sebagai balasan atas serangan yang dilakukan kelompok Hizbullah. Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan bahwa dua apartemen di kawasan permukiman menjadi sasaran serangan udara tersebut tanpa adanya laporan korban jiwa.

Rangkaian konflik tersebut memperpanjang ketidakpastian geopolitik global dan mendorong kenaikan harga energi. Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan kebutuhan devisa sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar. Data Non-Farm Payrolls (NFP) terbaru memperlihatkan penambahan lapangan pekerjaan yang cukup solid di berbagai sektor.

Menurut Lukman, sektor pemerintahan menyumbang tambahan sekitar 55 ribu pekerjaan, sementara sektor rekreasi dan perhotelan mencatat penambahan sekitar 70 ribu pekerjaan seiring meningkatnya aktivitas menjelang penyelenggaraan Piala Dunia.

Data ketenagakerjaan yang kuat tersebut memperkuat optimisme terhadap perekonomian AS dan sekaligus meningkatkan daya tarik dolar AS di pasar keuangan global. Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan jual yang lebih besar.

Dengan mempertimbangkan perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta respons pasar terhadap data ekonomi AS, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.150 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online