Laba Taspen Turun 16,1 Persen Jadi Rp1,04 Triliun, Ini Penyebabnya

Annisa Nurul Amara
Annisa Nurul Amara Rabu, 08 Juli 2026 16:07 WIB
Laba Taspen Turun 16,1 Persen Jadi Rp1,04 Triliun, Ini Penyebabnya

Ilustrasi uang. /Bisnis- Dwi Prasetya

Harianjogja.com, JAKARTA—PT Taspen (Persero) membukukan laba tahun buku 2025 sebesar Rp1,04 triliun atau turun 16,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski mengalami penurunan, perusahaan menilai capaian tersebut masih tergolong baik di tengah tantangan ekonomi, terutama karena ditopang oleh pertumbuhan hasil investasi yang mampu menutup ketidakseimbangan antara pendapatan iuran dan pembayaran klaim. (Berkas 3 DPR)

Direktur Utama Taspen, Rony Hanityo Aprianto, menjelaskan bahwa pendapatan utama perseroan berasal dari iuran dan premi. Namun sepanjang 2025, realisasinya turun 11% secara tahunan menjadi Rp7,73 triliun.

Di sisi lain, hasil investasi justru menunjukkan peningkatan sehingga menjadi penyangga utama kinerja keuangan perusahaan. Selain itu, pendapatan lain-lain, terutama yang berasal dari fee pengelolaan investasi pada akumulasi iuran pensiun, turut memberikan kontribusi terhadap laba perusahaan.

“Pada 2024, hasil investasi adalah Rp9,01 triliun, maka pada 2025 hasil investasi Taspen itu adalah Rp9,87 triliun dan juga yang menjadi sumber lainnya itu adalah pendapatan lain-lain yang banyak disumbangkan oleh fee pengelolaan investasi di akumulasi iuran pensiun,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI.

Hasil Investasi Menutup Selisih Iuran dan Klaim

Rony menjelaskan, Taspen mengelola dua kelompok program utama, yakni Tabungan Hari Tua (THT) dan Akumulasi Iuran Pensiun (AIP).

Khusus pada program AIP, hasil investasi menghasilkan imbal hasil bruto sebesar 6,7% atau sekitar 5% secara neto sehingga ikut memperkuat pendapatan perusahaan.

Sementara itu, sepanjang 2025 beban klaim tercatat mencapai Rp14,9 triliun atau turun sekitar 2% dibandingkan Rp15,21 triliun pada 2024.

Selain beban klaim, Taspen juga mencatat beban LMPMD dan cadangan teknis sebesar Rp64 miliar, beban usaha bersih Rp1,19 triliun, impairment Rp1,82 triliun, serta beban pajak Rp443 miliar.

Menurut Rony, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara penerimaan iuran dengan pembayaran manfaat kepada peserta sehingga hasil investasi menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas perusahaan.

“Kalau kita melihat beban klaim itu adalah Rp14,9 triliun. Kalau kita melihat kasat mata saja, iuran Rp7,7 triliun, klaim Rp14,9 triliun, itu kan artinya enggak matching. Jadi, yang menambal adalah hasil investasi, makanya sampai dengan saat ini Taspen masih bisa membukukan keuntungan,” jelas Rony.

Pencadangan Investasi Tekan Laba

Taspen juga menerapkan kebijakan pembukuan yang konservatif melalui pencatatan impairment atau pencadangan atas potensi penurunan nilai investasi.

Menurut Rony, sebagian pencadangan dilakukan terhadap portofolio obligasi BUMN Karya yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan.

Meski demikian, impairment tersebut bukan merupakan kerugian permanen. Nilainya dapat dipulihkan apabila obligasi jatuh tempo sesuai ketentuan atau terjadi perbaikan peringkat (rating) investasi.

“Jadi yang tadinya beban, bisa balik ke atas, jadi ke pendapatan, seperti itu. Kalau misalnya ada perbaikan rating, itu juga bisa kita reverse. Jadi, impairment ini tidak selamanya berdiri di sini sebagai beban. Ini adalah salah satu cara Taspen untuk paling enggak konservatif dalam melakukan pembukuan kami,” bebernya.

Ia menambahkan, apabila perusahaan tidak melakukan pencadangan tersebut, laba Taspen sebenarnya berpotensi mencapai sekitar Rp2 triliun.

“Kami milih untuk lebih konservatif saja, deh, mendingan kita cadangkan sekarang. Kalau kondisi membaik, bisa kami reverse, balik lagi ke kami di tahun depan atau tahun ini,” pungkasnya.

Pengajuan Klaim Didominasi Layanan Digital

Selain memaparkan kinerja keuangan, Taspen juga mengungkapkan perkembangan layanan kepada peserta sepanjang 2025.

Total pengajuan klaim mencapai 674.644 laporan. Sebanyak 560.719 klaim atau 83,1% diajukan melalui layanan daring, sedangkan 113.925 klaim atau 16,9% dilakukan secara langsung.

Adapun jumlah pensiunan yang dikelola Taspen hingga 2025 mencapai 3.246.739 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.562.388 pensiunan atau 78,92% telah melakukan autentikasi secara online, sedangkan 684.351 pensiunan atau 21,08% masih menggunakan mekanisme autentikasi manual.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online