Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS pada Pembukaan

Newswire
Newswire Senin, 12 Oktober 2026 10:47 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.894 per Dolar AS pada Pembukaan

Ilustrasi penukaran mata uang rupiah dengan dolar Amerika Serikat/ Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin. Mata uang Indonesia naik 5 poin atau 0,03% menjadi Rp17.894 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.899 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara (BWS), Rully Nova, menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dan indeks dolar AS. Ia memperkirakan rupiah masih bergerak menguat terbatas pada perdagangan hari ini.

“Rupiah hari ini diperkirakan menguat tipis pada kisaran Rp17.870- Rp17.900 dipengaruhi oleh global penurunan harga minyak dan indeks dolar,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Harga Minyak dan Indeks Dolar AS Menurun

Pergerakan rupiah berlangsung seiring penurunan harga minyak mentah dan pelemahan tipis indeks dolar AS. Harga minyak mentah berjangka Brent tercatat turun 0,91% menjadi US$103,95 per barel, sedangkan indeks dolar AS sedikit melemah ke level 102,2.

Penurunan tersebut dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan dengan Rusia di sektor energi.

Mengutip Sputnik, Rusia disebut siap memasok 300.000 ton solar ke pasar global paling cepat pada Oktober. Volume itu direncanakan meningkat menjadi 500.000 ton pada November dan 1 juta ton pada Desember, dengan potensi pengiriman mencapai 3 juta ton per bulan.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump berbicara melalui sambungan telepon. Dalam pembicaraan tersebut, Putin menegaskan kesiapan Rusia memasok minyak dan produk minyak bumi ke pasar AS maupun pasar global.

Rusia juga disebut akan mencabut pembatasan ekspor solar lebih awal dari jadwal. Setelah kebijakan tersebut dicabut, kebutuhan solar di pasar domestik Rusia diperkirakan dapat terpenuhi sepenuhnya.

Lelang SRBI Jadi Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai turut membantu menjaga stabilitas rupiah. Bank Indonesia (BI) menyerap dana sebesar Rp30 triliun melalui lelang tersebut.

Imbal hasil atau yield SRBI tercatat turun menjadi 6,55% untuk tenor enam bulan, 6,52% untuk sembilan bulan, dan 6,68% untuk 12 bulan.

Meski demikian, Rully menyebut sejumlah faktor domestik masih menjadi perhatian pelaku pasar. Di antaranya adalah indeks keyakinan konsumen serta penanganan bencana dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera.

“Namun, indeks keyakinan konsumen dan penanganan bencana dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera) masih menjadi perhatian pelaku pasar,” ungkap Rully.

Dengan demikian, pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi sentimen global, tetapi juga perkembangan kondisi dalam negeri yang turut dipantau investor.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online