Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Newswire
Newswire Rabu, 21 Oktober 2026 12:17 WIB
Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Ilustrasi penukaran mata uang rupiah dengan dolar Amerika Serikat/ Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka stagnan pada perdagangan Rabu dengan bertahan di level Rp17.992 per dolar AS. Pergerakan mata uang Garuda tersebut berlangsung menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah tidak mengalami perubahan atau bergerak 0 poin (0,00%) dibandingkan penutupan sebelumnya yang juga berada di level Rp17.992 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah berpotensi melemah karena pelaku pasar mengantisipasi keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan pada Rabu siang.

“Rupiah hari ini diperkirakan melemah dipengaruhi oleh domestik antisipasi hasil keputusan RDG BI siang nanti,” ucapnya, Rabu.

Pasar terbelah soal keputusan suku bunga BI

Menurut Rully, pelaku pasar memiliki perkiraan berbeda mengenai arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Ekspektasi pasar terbagi antara kemungkinan BI mempertahankan suku bunga atau menaikkannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6%.

Rully memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 5,75%. Langkah tersebut, menurutnya, diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga juga menjadi perhatian pasar, terutama jika dikaitkan dengan arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

“Jika BI menaikkan suku bunganya, mungkin mempertimbangkan antisipasi bila The Fed tanggal 28 Oktober nanti jika jadi menaikkan bunga 25 bps menjadi 4,25 persen,” ujar dia.

Rencana keputusan The Fed pada 28 Oktober tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang turut diperhitungkan dalam membaca arah pergerakan rupiah.

Harga minyak dan imbal hasil obligasi AS turut disorot

Selain kebijakan suku bunga, Rully menyoroti harga minyak dunia yang masih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi inflasi global sekaligus imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS.

Perkembangan harga minyak menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi inflasi global dan kondisi pasar keuangan. Kedua faktor tersebut turut menjadi bagian dari pertimbangan pelaku pasar dalam mencermati pergerakan mata uang.

Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent sempat berbalik turun sekitar 3% pada perdagangan Selasa setelah sebelumnya mendekati US$112 per barel.

Tolok ukur minyak internasional tersebut diperdagangkan pada US$106,18 per barel, turun US$3,37 atau 3,07% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Penurunan itu membuat harga Brent berada hampir US$6 per barel di bawah level tertinggi hariannya. Pergerakan tersebut menandai perubahan arah harga yang cukup tajam dalam satu sesi perdagangan.

Meskipun melemah, harga Brent masih tercatat sekitar 6,8% lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dan hampir 75% di atas level pada periode yang sama tahun lalu.

Rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp17.950–Rp18.100

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Keputusan suku bunga BI menjadi salah satu faktor domestik yang diperhatikan pasar, sedangkan arah kebijakan The Fed dan perkembangan harga minyak menjadi faktor eksternal yang turut dicermati.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar seiring penantian terhadap hasil RDG BI dan perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online