Rupiah Melemah ke Rp17.903, Ini Pemicu Tekanan Global

Newswire
Newswire Senin, 05 Oktober 2026 10:47 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.903, Ini Pemicu Tekanan Global

Dolar Amerika Serikat - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan Senin. Rupiah turun 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.903 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.882 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova mengatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal yang cukup dominan dan sikap pelaku pasar yang masih menunggu data ekonomi domestik.

Sejumlah faktor global menjadi perhatian pasar, mulai dari eskalasi konflik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, hingga ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.

Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak

Salah satu sentimen yang menekan rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Gerakan Ansarullah Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap kilang minyak Aramco di Riyadh, Arab Saudi, menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone.

Serangan tersebut memicu kebakaran dan gangguan terhadap pasokan energi global. Kondisi itu kemudian mendorong harga minyak mentah melonjak melampaui 102 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi tekanan bagi Indonesia karena dapat meningkatkan beban impor energi. Kondisi tersebut pada akhirnya turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Yield Obligasi AS dan Dolar Menguat

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari penguatan aset-aset AS. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun merangkak naik hingga 5,26 persen.

Kenaikan yield tersebut membuat aset AS semakin menarik bagi investor. Aliran modal berpotensi bergerak keluar dari pasar negara berkembang atau emerging markets menuju aset AS yang dinilai lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi atau safe haven.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS atau DXY tercatat menguat hingga level 101,9. Penguatan tersebut menunjukkan posisi dolar yang semakin kuat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Kombinasi penguatan dolar dan kenaikan yield obligasi AS menjadi sentimen yang turut membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pasar Mencermati Sikap The Fed

Pelaku pasar juga tengah mencermati rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Perhatian tertuju pada kemungkinan arah kebijakan moneter The Fed setelah bank sentral AS tersebut menaikkan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada pertemuan terakhir.

The Fed diproyeksikan masih mempertahankan sikap hawkish. Notulen FOMC diperkirakan dapat memberikan sinyal mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan sebanyak satu hingga dua kali lagi hingga akhir tahun ini.

Ekspektasi tersebut berpotensi semakin memperkuat posisi dolar AS di tengah pasar keuangan global.

Investor Tunggu Data Ekonomi Indonesia

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mengambil sikap wait and see menjelang rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terbaru oleh Bank Indonesia (BI).

Data keyakinan konsumen periode September diperkirakan masih berada di zona kuat. Namun, angkanya diproyeksikan melandai dibandingkan capaian Agustus yang tercatat 116,8.

Sikap investor yang menunggu data ekonomi domestik tersebut turut menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan Senin.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online