Kurs Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah, Tembus Rp17.960 per Dolar AS

Newswire
Newswire Selasa, 13 Oktober 2026 09:27 WIB
Kurs Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah, Tembus Rp17.960 per Dolar AS

Ilustrasi penukaran mata uang rupiah dengan dolar Amerika Serikat/ Bisnis.com

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Mata uang Garuda diproyeksikan ditutup pada kisaran Rp17.910 hingga Rp17.960 per dolar AS.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (12/10/2026), rupiah ditutup melemah 14 poin ke level Rp17.913 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen konflik geopolitik yang memicu kenaikan harga energi serta perkembangan arah kebijakan suku bunga global.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik masih menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan mata uang domestik. Perkembangan konflik internasional turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi harga energi dan kondisi ekonomi global.

Konflik Geopolitik Tekan Pergerakan Rupiah

Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina dan Rusia telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan tersebut menyusul tercapainya kesepakatan pasokan diesel antara AS dan Moskow.

Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah kelompok Houthi menyerang bandara internasional Riyadh. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Situasi semakin memanas setelah Trump menyatakan bahwa AS sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi. Perkembangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap risiko konflik yang lebih luas di kawasan.

"Ini adalah sebuah dampak lanjutan dari perang yang lebih luas dengan Iran yang dimulai oleh AS dan Israel pada bulan Februari," kata Ibrahim, Senin (12/10/2026).

Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu sentimen yang dicermati investor dalam menentukan posisi di pasar keuangan. Perubahan persepsi risiko global dapat memengaruhi pergerakan dolar AS maupun mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kebijakan Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian

Selain perkembangan konflik internasional, pasar juga mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Pernyataan terbaru sejumlah pejabat bank sentral tersebut membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyampaikan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke tingkat target. Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal yang diperhatikan pelaku pasar dalam memperkirakan arah suku bunga AS.

Senada dengan itu, Gubernur The Fed Christopher Waller juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila data ekonomi bergerak sesuai perkiraan.

"Minggu ini pasar akan mencermati data inflasi tingkat konsumen dan produsen, yang akan disusul oleh data penjualan ritel dan juga pernyataan beberapa pejabat The Fed," katanya.

Data inflasi konsumen dan produsen, penjualan ritel, serta pernyataan pejabat The Fed menjadi agenda penting yang berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat berdampak pada pergerakan dolar dan nilai tukar rupiah.

Pergerakan Rupiah dan Mata Uang Asia

Pada perdagangan Senin (12/10/2026), rupiah bergerak fluktuatif dengan kisaran pergerakan Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS sebelum ditutup melemah 14 poin ke posisi Rp17.913 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah pada Jumat (9/10/2026) ditutup menguat 16 poin atau 0,09% menjadi Rp17.899 per dolar AS. Penguatan tersebut sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang mencatatkan kenaikan terhadap dolar AS.

Baht Thailand mencatat penguatan paling besar, yakni 0,37%. Berikutnya, yuan China menguat 0,14%, peso Filipina naik 0,11%, dan ringgit Malaysia menguat 0,11%.

Dolar Singapura turut menguat 0,10%, sedangkan rupee India dan dolar baru Taiwan masing-masing naik 0,04%. Dolar Hong Kong juga mencatat penguatan sebesar 0,01%.

Sebaliknya, yen Jepang mengalami pelemahan paling dalam di antara mata uang yang disebutkan, yakni sebesar 0,29%. Won Korea Selatan juga melemah 0,14% terhadap dolar AS.

Perbedaan arah pergerakan mata uang regional tersebut menunjukkan bahwa pasar masih merespons beragam sentimen ekonomi dan global. Untuk perdagangan Selasa (13/10/2026), perkembangan geopolitik, harga energi, data ekonomi AS, serta sinyal kebijakan The Fed akan menjadi sejumlah faktor yang dicermati dalam melihat arah rupiah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online