Mulai 1 Oktober, OJK Wajibkan Laporan Insidental PMDK Lewat Sistem Terintegrasi
OJK mewajibkan laporan insidental PMDK melalui Sistem Pelaporan OJK mulai 1 Oktober 2026 untuk memperkuat pengawasan berbasis teknologi.
Ilustrasi penukaran mata uang rupiah dengan dolar Amerika Serikat/ Bisnis.com
Harianjogja.com, JAKARTA— Nilai tukar rupiah kembali berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah melemah 0,17% setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah ditutup pada posisi Rp18.022 per dolar AS. Nilai tersebut terkoreksi 30 poin atau 0,17% dibandingkan penutupan perdagangan pada sehari sebelumnya.
Pergerakan rupiah berlangsung di tengah kondisi mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang kawasan menguat, sementara rupiah dan beberapa mata uang lainnya justru mengalami pelemahan.
Rupiah Tertekan, Sejumlah Mata Uang Asia Menguat
Adapun Dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar di antara mata uang kawasan Asia yang disebutkan dalam data perdagangan tersebut, yakni 0,64% terhadap dolar AS. Berikutnya, rupee India menguat 0,27%, won Korea Selatan naik 0,19%, ringgit Malaysia menguat 0,04%, yen Jepang naik 0,03%, dan dolar Hong Kong menguat 0,02%.
Di sisi lain, peso Filipina mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,43% terhadap dolar AS. Baht Thailand terkoreksi 0,13%, yuan China melemah 0,04%, sedangkan dolar Singapura turun 0,02%.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah berkaitan dengan respons pasar terhadap keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate. Dalam kebijakan tersebut, BI juga menaikkan suku bunga deposit facility.
Meski mendapat tekanan, pelemahan rupiah sedikit tertahan oleh meredanya tekanan di tengah pasar ekuitas domestik.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS merespon langkah BI yang mempertahankan tingkat suku bunga. Tekanan yang mereda di pasar ekuitas sedikit banyak menahan pelemahan lebih lanjut," ujarnya, Rabu (21/10/2026).
Proyeksi Rupiah pada Perdagangan Kamis
Untuk perdagangan Kamis (22/10/2026), rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Proyeksi tersebut menempatkan pergerakan rupiah pada rentang di bawah posisi penutupan sehari sebelumnya yang mencapai Rp18.022 per dolar AS. Namun, perkiraan tersebut merupakan proyeksi pergerakan perdagangan, bukan kepastian arah nilai tukar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
OJK mewajibkan laporan insidental PMDK melalui Sistem Pelaporan OJK mulai 1 Oktober 2026 untuk memperkuat pengawasan berbasis teknologi.
BI memperbesar diskon hedging hingga 45% untuk menarik modal asing. Ekonom mengingatkan risiko ketergantungan pada arus modal jangka pendek.
Mbah Wariyana di Bantul berjualan jajanan dengan penghasilan Rp35.000 sehari demi memenuhi kebutuhan hidup dan merawat cucunya yang disabilitas.
Soundrenaline Sana Sini digelar di Ambarrukmo District, Jogja, 31 Oktober 2026, menghadirkan The SIGIT, Efek Rumah Kaca, HIVI!, dan lainnya.
Rupiah melemah 0,17% ke Rp18.022 per dolar AS setelah BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%
ESDM mengamankan penimbunan 400.000 liter solar subsidi di Semarang yang diduga akan dijual ke sektor industri, perkebunan, dan pertambangan.