Danantara Kaji Akuisisi Sritex atau Bangun Pabrik Tekstil Baru

Newswire
Newswire Selasa, 27 Oktober 2026 22:37 WIB
Danantara Kaji Akuisisi Sritex atau Bangun Pabrik Tekstil Baru

Foto ilustrasi karyawan industri tekstil - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia tengah mengkaji sejumlah opsi untuk masuk ke industri tekstil nasional. Dua skema yang dipertimbangkan adalah mengakuisisi perusahaan yang sudah beroperasi atau membangun pabrik baru untuk memperkuat kapasitas produksi sekaligus memperluas lapangan kerja.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan keputusan investasi akan mempertimbangkan kebutuhan industri dan peluang pengembangan usaha. Salah satu opsi yang dikaji adalah mengambil alih perusahaan yang sedang menghadapi kesulitan bisnis agar kegiatan produksi dan penyerapan tenaga kerja dapat dipertahankan.

"Pilihannya kan pada dasarnya membangun perusahaan itu ada yang kami akuisisi, ada yang kami bangun dari nol, ya," ujar Dony di sela agenda Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026), seperti dilansir Antara, Selasa (27/10/2026).

Danantara Kaji Akuisisi Perusahaan Tekstil

Menurut Dony, akuisisi dapat menyasar perusahaan yang sudah beroperasi, termasuk perusahaan yang menghadapi kesulitan usaha dan berpotensi mengurangi jumlah pekerja apabila menghentikan kegiatan produksinya.

Namun, pengambilalihan perusahaan tidak cukup hanya dengan mempertahankan aset dan operasional yang sudah ada. Danantara juga mempertimbangkan pembenahan model bisnis agar perusahaan yang diambil alih dapat beroperasi secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Selain akuisisi, pembangunan pabrik baru menjadi alternatif untuk memperkuat kapasitas produksi industri tekstil nasional. Kedua opsi tersebut masih dalam tahap kajian dan belum menghasilkan keputusan investasi final.

Salah satu perusahaan yang dikaitkan dengan kemungkinan pengambilalihan adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Meski demikian, Dony belum memastikan apakah Danantara akan mengakuisisi perusahaan tersebut.

"Ya, kita sedang melakukan evaluasi. Ya mudah-mudahan nanti akan. Teman-teman akan lihat. Kan semua akan terbuka," kata Dony.

Industri Tekstil Dibidik untuk Membuka Lapangan Kerja

Danantara menempatkan penyerapan tenaga kerja sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan investasi di industri padat karya. Karena itu, sektor tekstil menjadi salah satu bidang yang ingin dikembangkan lembaga tersebut.

"Karena itu Danantara serius akan masuk ke sektor ini," katanya.

Selain tekstil, Danantara juga membidik industri alas kaki dan elektronik. Kedua sektor tersebut dinilai berpotensi membuka banyak lapangan kerja dan memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Dony menjelaskan, pengembangan industri tekstil nantinya tidak hanya berorientasi pada produksi barang jadi. Danantara juga ingin memperkuat rantai industri dari sektor hulu, antara, hingga hilir.

"Nanti begitu kami mulai, kami akan masuk itu di tekstil itu tidak hanya di downstream-nya, tapi mulai dari upstream-nya, midstream-nya, sampai downstream-nya," ucap dia.

Pengembangan rantai industri secara menyeluruh diharapkan dapat memperkuat kemampuan produksi dalam negeri. Selain itu, pasar domestik dengan hampir 300 juta penduduk menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan industri tersebut.

Meski rencana investasi mulai dikaji, Danantara belum menetapkan nilai dana yang akan dialokasikan. Besaran investasi akan ditentukan berdasarkan kebutuhan ketika pembangunan atau pengembangan industri mulai dijalankan.

"Jumlahnya berapa, tentu tergantung daripada kebutuhannya nanti dalam kita memulai membangun industri tekstil ini," ungkap Dony.

Wacana BUMN Khusus Tekstil Masih Dibahas

Di sisi lain, Menteri Perindustrian (Menperin) Sarmuji sebelumnya membuka peluang pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus untuk sektor tekstil. Namun, opsi tersebut masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut bersama Danantara.

Sarmuji mengatakan pemerintah masih mengkaji bentuk kebijakan yang paling tepat untuk memperkuat industri tekstil nasional. Pembentukan BUMN khusus menjadi salah satu alternatif yang dapat dibicarakan, tetapi belum diputuskan.

“Kalau itu pembicaraan selanjutnya lah. Nanti seperti apa yang bisa diusahakan ya, apakah perlu ada BUMN khusus,” kata Sarmuji usai menghadiri agenda pelantikan dan Pengucapan Sumpah Pejabat Negara di Istana Negara, Kamis (1/10/2026).

Ia menegaskan pembahasan mengenai kemungkinan pembentukan perusahaan pelat merah khusus tekstil masih perlu dilanjutkan untuk menentukan bentuk dukungan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

"Nanti tentu harus kita bicarakan sama-sama dengan Danantara," ujarnya.

Dengan demikian, rencana Danantara masuk ke industri tekstil masih mencakup sejumlah alternatif, mulai dari akuisisi perusahaan yang sudah ada hingga pembangunan pabrik baru. Keputusan akhirnya akan berkaitan dengan kebutuhan investasi, penguatan rantai pasok, keberlanjutan usaha, serta potensi penyerapan tenaga kerja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online