24 Truk Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Boyolali
Sebanyak 24 truk operasional Koperasi Desa Merah Putih tiba di Boyolali dan mulai dibagikan kepada pengurus KDMP.
Ilustrasi uang rupiah/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA- Pemerintah menyebut, melemahnya nilai tukar rupiah saat ini karena faktor krisis ekonomi di Argentina.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan di awal pekan ini. Mengutip Bloomberg, Senin (3/9/2018), rupiah dibuka di angka 14.745 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.710 per dolar AS.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pelemahan rupiah tersebut lantaran krisis yang terjadi di Argentina.
“Pelemahan ini terjadi di semua negara yang neraca perdagangannya defisit. Itu karena krisis yang dialami oleh Argentina kemarin itu. Dia [Argentina] dapat bantuan dari IMF tapi ternyata masih krisis juga, dana asing yang keluar banyak. Dikira akan survive ternyata tidak suku bunga acuannya malah dinaikkan. Ini yang jadi penyebab pelemahan itu tadi. Makanya pasar itu jitter [panik],” kata Darmin saat berbincang dengan Suara.com-jaringan Harianjogja.com, Senin (3/8/2018).
Meski begitu, Darmin mengklaim bahwa tekanan rupiah dari Argentina ini sejatinya tidak perlu dikhawatirkan secara berlebih. Bahkan, dampaknya diperkirakan tidak lebih patut dikhawatirkan bila dibandingkan dengan gejolak ekonomi Turki beberapa waktu lalu.
"Dampaknya antara sama atau bahkan lebih sedikit [dari Turki], karena hubungan dagang Indonesia dengan Argentina dan Amerika Latin itu sedikit sekali," ujarnya.
Seperti diketahui, Argentina meminta bantuan dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund / IMF) sebesar 50 miliar dolar AS untuk mengatasi krisis ekonominya. Pasar sudah memprediksi Argentina akan membaik namun dana asing yang keluar tidak terkendali.
Sebelumnya, Negeri Tango mengalami arus keluar dana asing hingga menyeret kurs peso ke kisaran 40 per dolar AS. Kendati demikian, bank sentral Argentina mengerek bunga acuan sampai 60 persen.
Namun, Darmin tak menampik bahwa sentimen gejolak ekonomi negara berkembang, seperti Argentina dan Turki ini tentu lebih mudah mempengaruhi pasar uang dan obligasi.
"Secara umum pasti ada dampaknya dulu ke sana, kemudian ada jalan keluar bisa di rem, baru kemudian tenang lagi secara global. Tapi, negara maju pun terkena, bukan hanya negara berkembang," ujarnya.
Selain itu, lanjut Darmin, nilai tukar rupiah terus fluktuatif karena juga terimbas sentimen pasar terkait tren penaikan suku bunga acuan AS, Fed Funds Rate. Apalagi bank sentral AS sudah memberikan sinyal penaikan sampai 2019.
“Berarti kita akan kena dampaknya baik di tingkat bunga dan inflasi karena imported inflation, tetapi sejauh ini belum," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara
Sebanyak 24 truk operasional Koperasi Desa Merah Putih tiba di Boyolali dan mulai dibagikan kepada pengurus KDMP.
Persebaya pesta gol 7-0 atas Semen Padang. Simak jalannya pertandingan, daftar pencetak gol, dan susunan pemain lengkap.
Jelang Iduladha, jasa salon sapi di Boyolali jadi strategi pedagang tingkatkan harga jual. Kisah Darmo bertahan sejak 1980-an.
Selandia Baru umumkan skuad Piala Dunia 2026 hasil seleksi 3 tahun. Kombinasi pemain senior dan muda siap beri kejutan.
Dua WNA mencuri Rp4,2 juta di warung Gunungkidul dengan modus tukar uang. Polisi masih memburu pelaku dan imbau warga waspada.
Lonjakan penumpang kereta saat long weekend Kenaikan Yesus Kristus capai 778 ribu tiket. Jogja jadi tujuan favorit masyarakat.