Advertisement
HARGA GAS 12 KG NAIK : Harga Gas 12 kg Naik, Hotel dan Restoran 'Terpukul'
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA- Kenaikan harga gas 12 kilogram dinilai akan menambah beban bagi konsumen. Bagi kalangan pengusaha, tak ada pilihan lain kecuali menyesuaikan dngan kenaikan harga tersebut.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Istijab Danunegoro mengatakan kenaikan gas elpiji 12 kilogram tentu berdampak pada kenaikan beban operasional sektor hotel dan restoran.
Advertisement
"Ya tentu saja ada dampaknya. Sebab, selama ini ada beban distribusi energi perhotelan dan restoran sekitar 15%," kata General Manager Grand Quality Hotel Jogja itu, Selasa (12/8/2014).
Jika Pertamina menaikkan harga gas elipiji 12 kilogram, maka beban untuk membiayai bidang energi akan semakin membengkak. Dia memperkirakan ada kenaikan beban biaya antara 20% hingga 30% jika harga gas tabung reguler naik.
"Kalau ditambah beban kenaikan TDL untuk industri beberapa waktu lalu, bebannya bisa naik hingga 30%. Ini justru menjadi masalah yang harus ditanggung," tandasnya.
Berkaca pada kenaikan harga sebelum-sebelumnya (baik TDL maupun gas), pihaknya menyediakan dua opsi. Pertama menaikkan harga rata-rata 10% atau opsi kedua mengurangi porsi makanan. Kedua opsi tersebut, lanjut Istijab, tak ubahnya buah simalakama. Sama-sama pilihan sulit dan pahit.
Hal senada disampaikan General Manager Bale Ayu Resto Jogja Yudiono. Menurut dia, setiap ada kenaikan harga baik harga kebutuhan (sembako), BBM maupun elpiji, pihaknya selalu menyesuaikan harga penjualan.
"Tentu hal itu dilakukan. Namun tidak semua produk yang kami naikkan harganya. Sebagian kami terapkan sistem subsidi," jelas Yudiono saat dihubungi Harianjogja.com.
Meski begitu, sebelum melakukan penyesuaian harga, manajemen terlebih dulu memperbaiki fasilitas dan pelayanan. Hal itu dilakukan agar konsumen tetap nyaman.
"Setiap bulan, untuk satu restoran saja konsumsi gas 12 kilogram menghabiskaan rata-rata 5-6 tabung. Kami masih mencari alternatif lain misalnya beralih ke Bright Gas. Sebab, kompor kami menggunakan blower untuk memompa angin. Kalau dengan konsumsi Bright Gas bisa dilakukan, bukan mustahil kami mencoba," tutup Yudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Mensesneg: Harga BBM Belum Berubah, Warga Diminta Tak Terpengaruh Isu
- KPK: Deadline Makin Dekat Banyak Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
- Aturan KBLI 2025 Terbit, Izin Usaha Makin Akurat dan Terintegrasi
- Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Daop 6 Jogja Padat 66 Ribu Penumpang
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
Advertisement
16 Ribu Nasi Angkringan Gratis Meriahkan HUT Sri Sultan di Malioboro
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- BSI Salurkan Zakat Rp289 Miliar ke BAZNAS, Terbesar di Indonesia
- Harga Plastik di Jogja Melonjak hingga 70 Persen, Penjualan Anjlok
- Serapan Anggaran di DIY Masih Rendah, TKD Jadi Penopang
- Inflasi DIY Maret 2026 0,45 Persen, Lebih Rendah dari Februari
- Aturan BBM Subsidi Baru, Logistik Nasional Terancam Terganggu
Advertisement
Advertisement




