UKM DIY : Ini Cara Kurangi Ketergantungan Impor

UKM DIY : Ini Cara Kurangi Ketergantungan ImporWulandari membuat tempe dari kedelai impor di Kelurahan Sanan, Malang, Jawa Timur, Selasa (10/3/2015). Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US) yang berada pada kisaran Rp13.000/US justru membuat harga kedelai impor di kawasan tersebut turun dari Rp7.800/kg menjadi Rp7.000/kg. (JIBI/Solopos/Antara - Ari Bowo Sucipto)
15 Maret 2015 02:20 WIB Redaksi Solopos Ekbis Share :

UKM DIY mengurangi ketergantungan bahan impor.

Harianjogja.com, JOGJA - Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah Daerah Istimewa Yogyakarta (UMKM DIY) meminta dukungan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan bahan baku impor yang harganya meningkat menyusul pelemahan nilai tukar rupiah.

"Dengan nilai tukar rupiah yang melemah tentu bahan baku yang rata-rata masih impor akan melonjak," kata Ketua Komunitas UMKM DIY, Prasetyo Atmosutidjo, Sabtu (14/3/2015).

Pada perdagangan Jumat (13/5/2015), penguatan dolar yang terus berlanjut mengakibatkan nilai tukar rupiah kembali merosot. Rupiah yang cenderung tertekan berakhir melemah 22,8 poin (0,17 persen) pada level Rp13.205,3 per dolar AS.

Menurut Prasetyo, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih lemah, sebagian besar UKM mengaku terdampak karena kebanyakan masih menggunakan bahan baku impor.

Dia mengatakan dalam menghadapi persoalan itu, pemerintah dapat mengarahkan kalangan perajin untuk mencarikan alternatif pemenuhan bahan baku lokal sebagai pengganti bahan baku impor.

"Kami berharap pemerintah dapat mendukung ," kata dia.

Menurut dia, hampir 50 persen UKM di DIY masih bergantung pada bahan baku impor. Misalnya, ia menyebutkan, perajin batik, pengusaha pakaian, tahu-tempe serta pengusaha kecil menengah lainnya.

"Perajin pakaian sebagian besar membutuhkan kain "cotton" sementara perajin batik juga masih membutuhkan pewarna tekstil yang seluruhnya impor, bahkan perajin tahu-tempe pun pakai kedelai impor," katanya.

Dengan fenomena tersebut, menurut dia, biasanya tidak ada pilihan lain bagi UKM selain menaikkan harga jual produksi. Namun hal itu merupakan upaya terakhir setelah upaya lainnya telah ditempuh.

"Saat ini dampaknya masih belum menyatu, nanti kalau penurunan ini terus terjadi tentu akan semakin dirasakan gejolaknya," katanya.

Menurut dia, menyikapinya tentu diperlukan strategi untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor dengan dukungan pemerintah sebab Indonesia memiliki bahan baku lokal yang memadai.