KURS RUPIAH : Anjlok, Industri Roti Terpuruk

KURS RUPIAH : Anjlok, Industri Roti TerpurukIlustrasi proses produksi Roti Ganep (JIBI/Solopos - Dok.)
17 Maret 2015 11:20 WIB Arief Junianto Ekbis Share :

Kurs rupiah yang melemah mempengaruhi 'kehidupan' industri roti.

Harianjogja.com, JOGJA—Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengakibatkan industri roti dan kue terpuruk.

Beberapa pengusaha roti di DIY pesimistis pendapatan mereka bulan ini dapat seperti tahun-tahun sebelumnya. Endi Yunarso, Area Manager Amanda DIY Jawa Tengah, mengatakan pada Maret 2015 ini pendapatan perusahaannya akan mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, pendapatan di bulan Maret bisa mencapai Rp1 miliar-Rp1,5 miliar. Tahun ini, ia memperkirakan pendapatan hanya akan mencapai 15%-20% dari nilai sebelumnya.

“Padahal, biasanya kenaikan dari Februari ke Maret cukup tajam, bisa mencapai 30-40 persen,” tuturnya, Minggu (15/3/2015).

Dengan kondisi seperti itu, Amanda hanya mengharapkan keuntungan besar saat Lebaran serta perayaan Natal dan Tahun Baru. Pada dua momentum tersebut, pendapatan maksimal bisa Rp3 miliar per bulan.

Endi mengatakan meski rupiah melemah, pihaknya belum berniat menaikkan harga produk. Pasalnya, kenaikan harga bahan baku akibat fluktuasi nilai tukar rupiah sudah diprediksi sejak Agustus 2014 lalu. Ketika itu, pihaknya
sudah melakukan penyesuaian harga produk yang cukup tinggi, yakni mencapai 30% dari harga sebelumnya.

“Ongkos produksi memang mengalami peningkatan. Di awal 2015 ini, kami sudah mengalami setidaknya satu kali peningkatan ongkos produksi, yakni pada Februari lalu, sekitar 10-15 persen. Beruntung, itu sudah kami siasati
dengan penyesuaian harga produk pada Agustus 2014 lalu,” tegasnya.

Hal serupa juga dialami pelaku industri roti rumahan, Retna Pratiwi. Ibu rumah tangga yang berdomisili di Nologaten, Sleman ini mengakui usaha yang dirintisnya sejak dua tahun lalu itu kini kembang kempis.

Ketidakseimbangan antara pendapatan dan ongkos produksi membuatnya harus menaikkan harga roti sekitar 5-10% dari harga semula. Akibatnya, omzet per bulan pun anjlok.

“Jika dalam sebulan biasanya ada 10-15 pemesan, sekarang lima pemesan saja sudah bagus,” keluhnya.