KURS RUPIAH : Bisnis Penyedia Jasa Umrah Terganggu

KURS RUPIAH : Bisnis Penyedia Jasa Umrah TergangguJemaah ibadah haji melemparkan batu ke pilar perlambang setan di Mina, tak jauh dari kota suci Mekah, Sabtu (4/10/2014). Prosesi lempar jumrah itu mereka lakukan setelah mereka bermalam di padang Arafah yang menasbihkan sahnya ibadah haji. Saat melakukan perjalanan dari Arafah, sebelum tiba di Mina, sekitar 15 km dari arah Padang Arafah lewat tengah malam, para jemaah haji mabit di Muzdalifah, kemudian mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah tersebut. (JIBI/Solopos/Reuters - Muhammad Hamed)
20 Maret 2015 05:20 WIB Abdul Hamied Razak Ekbis Share :

Kurs rupiah yang lemah mempengaruhi bisnis penyedia jasa umrah.

Harianjogja.com, JOGJA- Nilai tukar rupiah atas dolar terus melemah berdampak bagi penyedia jasa layanan umroh dan haji khusus di DIY. Sebagian dari jamaah mengurungkan niatnya untuk berangkat karena kenaikan biaya operasional.

Branch Manager Sahid Tour Abdullah Musa mengatakan, penundaan keberangkatan tersebut dilakukan karena sejumlah jamaah menunggu stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar. Menurut Musa, adanya selisih biaya (umrah) akibat fluktuasi nilai tukar rupiah atas dolar tersebut menyebabkan 30% jamaah di tempatnya menunda keberangkatan.

"Misalnya, dari 20 jamaah sebanyak lima jamaah meminta penjadwalan ulang. Ini karena nilai kurs rupiah
meningkat," ujar Musa kepada Harianjogja.com, Rabu (18/3/2015).

Tarif layanan plus dari semua jasa layanan umrah dan haji khusus, seluruh akomodasi jamaah dipatok
menggunakan dolar, sebagai patokan mata uang asing yang digunakan dalam transaksi internasional.
Penggunaan standar mata uang dolar ini berdampak saat nilai tukarnya menguat atas rupiah. Akibat selisih
tersebut jamaah menambah jumlah dananya dari Rp22 juta menjadi Rp25 juta untuk kurs dollar sebesar Rp13.000.

"Di tempat kami paket paling murah sebesar US$1.995. Kalau dirupiahkan sekitar Rp25 juta. Padahal, kalau menggunakan kurs sebelum naik antara Rp21 juta sampai Rp22 juta. Akibatnya, beberapa jamaah menunda keberangkatan. Umumnya satu keluarga, karena tidak bisa meninggalkan salah seorang dari mereka," jelas Musa.

Pada 26 Maret ini mereka akan memberangkatkan 36 jamaah umroh. Kebanyakan jamaah sudah melunasi
pembayaran dan tidak terpengaruh meskipun harus menambah dana menyesuaikan kenaikan dollar.

"Alasannya, mereka pergi untuk beribadah. Kalau nunggu berangkat haji masih menunggu 2023 nanti," sambung Musa.

Berbeda dengannya, Zudiyatko dari PT Hijau Tumbuh Kembang Madinah Prima Indonesia di Kwarasan Jogja mengaku, kenaikan kurs dollar terhadap rupiah tidak berdampak pada kegiatan bisnis penyedia jasa layanan umrah. Menurutnya, hal itu didasari pada niat para jamaah yang kuat untuk beribadah.

"Saya rasa tidak ada jamaah yang menunda keberangkatan meskipun dollar naik," jawabnya kepada
Harianjogja.com.

Dia mengatakan, untuk berangkat umrah masing-masing jamaah membayar US$1.995. Meskipun ada selisih nilai jika dirupiahkan, kata Zudi, namun tidak ada jamaah yang mengurungkan niatnya untuk berangkat.

"Dalam waktu dekat kami akan memberangkatkan 20 jamaah. Itu rata-rata perbulan jamaah yang berangkat," tutup Zudi.