PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Bulir Lebih Banyak, Petani Lirik Bibit Sembada

PERTANIAN GUNUNGKIDUL : Bulir Lebih Banyak, Petani Lirik Bibit Sembada
22 Maret 2015 00:30 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Pertanian Gunungkidul, petani setempat lebih melirik bibit padi hibrida sembada.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Petani di Dusun Susukan II, Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul mulai melirik bibit padi hibrida Sembada karena jumlah bulir yang lebih banyak.

Sekretaris Kelompok Tani Sari Bumi, Dusun Susukan II Subilarto mengatakan, petani di Susukan II baru mencoba menanam benih Sembada pada musim tanam pertama tahun ini. Hasilnya dinilai memuaskan.

“Satu tanaman padi bisa menghasilkan sampai 400 bulir padi. Dari hasil ubinan [ukuran 2,5 m x 2,5 m] hasilnya 6,7 kg. Satu hektare bisa menghasilkan 8, 95 ton,” ungkap dia kepada Harianjogja.com ketika ditemui di Dusun Susukan II, Kamis (19/3/2015).

Ia menjelaskan, untuk padi lainnya misalnya Situ Bagendit satu tanaman padi menghasilkan 220 sampai 250 bulir. Namun, ia mengaku kesulitan mendapatkan bibit padi Sembada. Selain itu, padi hibrida biasanya tidak tahan terhadap serangan hama wereng coklat.

“Selain Situ Bagendit, kami juga menanam padi Inpari 24 yang hasilnya jauh lebih banyak. Setiap hektare bisa menghasilkan gabah 12,3 ton,” ujar dia.

Menurutnya, petani di daerahnya kerap mencoba berbagai jenis bibit padi. Tujuannya, agar mengetahui jenis padi mana yang paling cocok ditanam di daerah tersebut dan bagaimana hasilnya. Rencananya, mereka juga akan mencoba jenis padi Ciberes yang mampu menghasilkan hingga 350 bulir pada setiap batangnya.

Ketua Kelompok Tani Sari Bumi Ngatiman menambahkan, hasil panen pada musim tanam pertama memuaskan. Untuk padi jenis Situ Bagendit, setiap hektare bisa menghasilkan 8,7 ton. Hasil tersebut untuk lahan yang mengikuti Sekolah Lapang-Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT). Sementara, lahan yang belum SL-PTT, setiap hektare hasilnya rata-rata 6,7 ton.

“Hasil panen biasanya lebih banyak saat musim tanam ketiga karena saat itu hujan sudah tidak sering turun sehingga lebih tahan hama,” ungkap dia.