Pasar Kalasan Terkenal Sebagai Pusat Ayam Goreng

Pasar Kalasan Terkenal Sebagai Pusat Ayam GorengPengunjung tampak memasuki pintu masuk Pasar Kalasan, Sleman, Selasa (8/1). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
09 Januari 2019 08:30 WIB Bernadheta Dian Saraswati Ekbis Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pasar Kalasan merupakan salah satu pasar yang terkenal di Kecamatan Kalasan, Sleman. Lokasinya yang strategis karena terletak di tepi jalan nasional Jogja-Solo membuat pasar ini kerap menjadi jujugan warga lokal maupun wisatawan luar kota.

Salah satu ciri khas dari pasar ini adalah ayam gorengnya. Kecamatan Kalasan memang menjadi sentra produksi ayam goreng. Banyak pengusaha kecil yang membuka bisnisnya di rumah tetapi ada pula yang menjajakan dagangannya di Pasar Kalasan.

Setiap pagi, pedagang ayam goreng di Pasar Kalasan menggelar produknya di atas meja. Tidak hanya ingkung ayam kampung, mereka menjajakan lengkap dengan kremes, cakar asin, dan lalapan. "Begitu bilang Pasar Kalasan ya ingatnya langsung ayam goreng. Rasa ayamnya itu juga beda dengan di tempat lain. Pokoknya lebih enak," kata salah satu pedagang di Pasar Kalasan yang juga bendahara Paguyuban Pedagang Pasar Kalasan Manunggal, Dwi Lestari, Selasa (8/1).

Keberadaan pedagang ayam goreng di Pasar Kalasan menurutnya, memberikan sentuhan khas tersendiri bagi pasar yang baru direnovasi itu. Selain itu, aroma harum ayam goreng yang menyengat memberikan kesan yang menarik perhatian pengunjung.

"Bagi yang mau nyari ayam goreng jadi enggak perlu langsung ke rumah-rumah pedagangnya tetapi bisa langsung ke pasar sembari beli kebutuhan lain," kata Dwi yang berjualan pakaian sejak 2005 itu.

Ia cukup bangga dengan gedung baru yang dimiliki Pasar Kalasan. Menurutnya para pedagang sangat menjaga kebersihan lingkungan dan juga kesehatan diri masing-masing. "Kami mengusulkan juga agar pedagang daging segar kalau jualan pakai masker dan talenannya tidak pakai kayu agar lebih sehat," katanya.

Saat ini lalat di pasar sudah berkurang karena pedagang rutin bergotong royong dan membuat tempat sampah tertutup. Para pedagang berusaha mempertahankan predikat pasar sehat yang sudah disandang Pasar Kalasan.

Dwi juga mengatakan kehidupan sosial antarpedagang berjalan dengan baik. Pedagang juga turut nguri-uri kabudayan Jawi dengan menggunakan seragam batik paguyuban setiap tanggal dua, pakaian adat Jawa setiap Kamis Pahing, pakaian olahraga setiap Jumat, dan baju batik bebas setiap Minggu. "Biar kami terlihat rapi di depan pengunjung," katanya.

Sementara itu, Susan salah satu pengunjung pasar mengaku lebih nyaman berbelanja di Pasar Kalasan setelah direnovasi dan kembali diresmikan pada Mei 2018 lalu itu. Kesan becek dan jorok sudah kini berganti dengan pasar yang bersih dan nyaman. "Sekarang jadi rajin ke pasar," katanya.