IDE BISNIS: Kalani Wood, Manfaatkan Limbah Skateboard Jadi Jam Tangan Kayu

IDE BISNIS: Kalani Wood, Manfaatkan Limbah Skateboard Jadi Jam Tangan KayuProduk jam kayu Kalani Wood - ist/Kalani Wood
15 Januari 2019 09:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Berawal dari hobi skateboarding, Suhardi Widayanto, 35, melihat peluang limbah papan skateboard yang telah lapuk untuk dirakit menjadi produk jam tangan bernilai jual tinggi. Dengan merek Kalani Wood, produk buatannya memiliki keunikan motif penuh warna.

Bekerja di luar Pulau Jawa membuat Anto jengah, dia pun memutuskan untuk mundur dari pekerjaannya dan kembali ke DIY. Di sela-sela masa-masa rehatnya, Anto kembali menekuni hobi bermain skateboard. Di sana dia baru menyadari skateboard lapuk ketika usianya enam bulan.

“Biasanya kalau sudah enam bulan ke atas itu sudah lapuk, keropos sana sini karena terlalu sering kena tekanan, seringnya papan itu ya dibuang begitu saja,” kata Anto kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Tumpukan limbah papan skate itu adalah awal dari inspirasi bisnis Anto. Papan skate biasanya terbuat dari kayu maple yang memiliki tekstur tahan air dan keras. Selain itu, di bagian pinggir papan skate kayu maple disusun bertumpuk-tumpuk dalam aneka warna. Misalnya hijau, merah, kuning, biru dan ungu. Motif bawaan dari tumpukan kayu itu lah yang ingin ditonjolkan Anto dalam produknya.

Mula-mula Anto bersama kedua rekannya mencoba membuat cincin dengan bahan baku limbah papan skate. Motif dari cincin itu adalah warna-warni ujung papan skate. Biasanya dalam satu hari, jika mengerjakan produk seorang diri, Anto dapat menghasilkan puluhan cincin.

Anto memulai proses produksi sejak pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB di mana proses produksi termasuk memotong kayu, menghaluskan kayu dan menyusun tumpukan kayu limbah papan skate yang berwarna-warni.

“Kemudian setelah cincin, jadi kepikiran bikin jam tangan kayu. Kalau jam tangan kayu memang sudah banyak yang bikin, apalagi di Jakarta. Tetapi menurut saya yang menggunakan motif warna-warni skateboard ini baru Kalani Wood, jadi saya putuskan bikin jam tangan kayu,” kata pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogja ini kepada Harian Jogja, belum lama ini.

Anto mengaku motif horizontal warna-warni yang didapat dari limbah papan skate menjadi daya tarik yang cukup tinggi di kalangan pelanggan milenial. Selain sesuai dengan selera segmen milenial yang mengincar produk unik penuh warna, teknik penyusunan warna tersebut membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi, sehingga motifnya sulit ditiru orang lain.

“Ini tidak sekadar menumpuk limbah papan skate yang warna-warni saja, kalau tidak tahu tekniknya, pasti nyusun warnanya enggak rapi,” kata Anto.

Dalam jam tangan kayu yang dirancang Anto, tak hanya bagian pinggir saja yang menggunakan motif warna-warni tumpukan kayu limbah papan skate. Anto juga menambahkan tumpukan motif warna-warni itu di bagian frame jam tangan kayunya.

Namun teknik ini membutuhkan waktu yang lebih panjang daripada jam tangan kayu yang memiliki motif warna-warni di bagian pinggirnya. Saat ini, Anto menjalankan bisnisnya seorang diri. Mulai dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB, dia dapat membuat 10 jam tangan kayu.

Kemasan Kayu

Jam tangan kayu dengan motif unik penuh warna itu kemudian dikemas ke dalam kotak kayu. Anto juga menggunakan limbah kayu untuk membuat kemasan jam tangan kayunya. Biasanya dia menggunakan kayu untuk melindungi kotak-kotak kardus produk impor.

Anto biasa mendapatkannya di pabrik-pabrik barang pecah belah. Kemasan yang terbuat dari kayu itu juga bisa menghemat biaya produksi jam tangan kayu Anto.

“Kalau soal jam tangannya, sudah saya uji dan awet. Saya kerja sama dengan produsen jam tangan, kemudian framenya saya ganti dengan kayu rakitan saya, sedangkan talinya saya pilih menggunakan kulit asli,” kata Anto.

Dengan kemasan dari kayu yang dihaluskan dan diukir dengan merek Kalani Wood, jam tangan Anto dijual seharga Rp450.000. Selama sebulan, setidaknya omzet penjualan jam tangan Anto mencapai Rp5 juta. Omzet itu belum termasuk penjualan akesori seperti anting-anting dan cincin. Apalagi jika dia mendapatkan pesanan suvenir pernikahan.