SOSOK: Andik Duana Putra, Suka Tantangan dengan Pindah-Pindah Kerja

SOSOK: Andik Duana Putra, Suka Tantangan dengan Pindah-Pindah KerjaAndik Duana Putra - Harian Jogja/Rheisnayu Cyntara
02 Februari 2019 13:25 WIB Budi Cahyana Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Menurut Andik Duana Putra, sering berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya merupakan salah satu cara untuk terus belajar.

Pria kelahiran Surabaya, 12 April 1972 ini mengaku tidak mudah puas untuk belajar dan menggemari tantangan.

Berbekal jaringan dan pengalaman yang ia punya, Andik pun memutuskan untuk bergabung dengan Mbiz, anak perusahaan Lippo Group yang bergerak di bidang B2B enterprise sejak 2016 lalu. Dipercaya sebagai CCO (Chief Compliance Officer) di sebuah perusahaan baru membuatnya tertantang untuk membangun perusahaan ini.

Ia pun mendapat kebebasan untuk mengaplikasikan ide dan konsep di industri digital ini. “Saya juga punya tantangan bagaimana menyatukan dua tipe karyawan dari generasi X dan Y dalam lingkungan kerja yang sama,” kata dia pekan lalu.

Tanggung jawab tersebut agaknya bukan hal yang terlalu sulit bagi Andik dengan sederet pengalaman yang ia miliki. Andik memulai kariernya pada 2000 sebagai Regional Sales Manager di PT Cussons Distributor Indonesia. Setelah lima tahun bekerja di sana, ia mendapat peluang untuk melanjutkan karier di PT Ades Waters Indonesia, sebagai sales operation manager. Selama enam tahun berada di perusahaan, ia berhasil mengimplementasikan sistem territory management. Setelah cukup memiliki portofolio di bidang fast moving consumer goods (FMCG), ia pun mencoba merambah bidang telekomunikasi dengan bergabung ke Bakrie Telecom sebagai Vice President Sales PT Bakrie Telecom.

Dengan bekal berbagai pengalaman tersebut, Andik dituntut membuat perusahaan profitable, sustainable, dan sesuai dengan tujuan awal Mbiz, yakni menjadi solusi di bidang procurement (pengadaan barang dan jasa) bagi konsumen dari enterprise corporation. Andik pun bekerja secara terbuka dan berbagi dengan berbagai pihak mengenai perkembangan pasar digital di Indonesia.

“Indonesia masih sangat kurang memiliki pemain di bisnis B2B enterprise, hanya sekitar 10%. Padahal di negara lain seperti Tiongkok dan Korea, pemain di bisnis B2B ini lebih banyak berkali-kali lipat dibandingkan B2C. Inilah yang harus terus didorong karena B2C hanya memenuhi kebutuhan individu, B2B bisa menyediakan solusi bagi korporasi dan pebisnis lainnya,” ujar dia.