IDE BISNIS: Pelem Ukulele, Pakai Bahan Baku Lokal, Tembus Pasar Internasional

IDE BISNIS: Pelem Ukulele, Pakai Bahan Baku Lokal, Tembus Pasar InternasionalFadil Firdaus bersama Wafiq Giotama menyelesaikan pembuatan ukulele di rumah produksi Pelem Ukulele di Ngipik, Banguntapan, Bantul, Kamis (10/1). Personel band Slank, Padi dan Payung Teduh pernah memesan produk Pelem Okulele - Harian Jogja/Desi Suryanto
12 Februari 2019 11:35 WIB Salsabila Annisa Azmi Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Sebagai musikus Wafiq Giotama atau Ogi, 25, dekat dengan berbagai jenis alat musik. Namun ia lebih dekat dengan ukulele yang kemudian mendorongnya membuka bisnis pembuatan alat musik ini. Ia membuat produk dengan konsep personalized yang kini telah tembus pasar internasional.

Nama Ogi melambung di Kota Jogja karena Answer Sheet, sebuah band lokal yang kerap manggung dari satu pensi sekolah ke sekolah lain. Dalam band tersebut, Ogi dikenal kerap memainkan alat musik ukulele dan melakukan rekaman di studio musik milik rekannya, Fadhil.

Suatu hari Ogi dan Fadhil merasa ukulele milik Ogi yang dibelinya dari luar negeri kurang menghasilkan bunyi yang bagus.

“Setelah diriset, memang ukulele yang layak buat rekaman adalah ukulele yang memiliki spesifikasi all solid wood di mana [bahan baku] kayunya benar-benar padat, sedangkan yang saya pakai kan masih laminate atau tipis seperti tripleks begitu. Terus kami sepakat, gimana kalau bikin sendiri aja,” kata Ogi saat ditemui di Pelem Ukulele yang terletak di Jalan Ngipiksari, Banguntapan, Bantul belum lama ini.

Ogi pun mulai merintis usaha bernama Pelem Ukulele dengan harapan dia bisa membuat ukulele yang tidak hanya layak untuk dijual, tetapi juga layak untuk permainan panggung.

Tak hanya itu, Ogi bercita-cita membuat ukulele dengan spesifikasi tersebut dengan harga yang bisa dijangkau oleh kaum pemula. Ogi menjadikan harga ukulele yang belum layak di pasaran sebagai patokan, biasanya harga ukulele paling murah Rp2 juta.

Ia kemudian mencoba mencari jalan untuk melakukan impor kayu sebagai bahan baku pembuatan ukulele, tetapi ternyata harganya menyentuh Rp6 Juta hingga Rp7 Juta. Ogi merasa belum mampu untuk membeli bahan baku tersebut.

Ia pun mengamati dari Hawai dengan bahan baku menggunakan kayu pohon mangga. Ogi lalu mencoba membuat prototipe ukulele menggunakan kayu pohon mangga. Oleh sebab itu, bisnisnya dinamai Pelem Ukulele.

Banyak tantangan yang dihadapi Ogi saat awal merintis Pelem Ukulele. Ogi harus riset pada komunitas pecinta ukulele baik regional maupun internasional melalui berbagai situs. Stem nada pada ukulele buatannya juga ternyata tak mudah. “Butuh waktu satu tahun untuk menemukan stem nada yang pas dan dijadikan template pembuatan ukulele,” kata Ogi.

Hingga saat ini, Ogi menggunakan bahan baku lokal. Ia juga menggunakan kayu mahoni dan kayu akasia dalam membuat ukulele. Sebab setiap kayu menghasilkan karakteristik suara yang berbeda-beda. Dominasi treble akan didapatkan dari kayu mahoni, sedangkan dominasi bass didapatkan dari kayu mangga. Bahan baku kayu akasia akan menghasilkan harmoni yang seimbang antara treble dan bass.

Harga Variatif

Dalam Pelem Ukulele, Ogi bekerja bersama Fadli dan salah satu rekannya. Proses pengerjaan satu pesanan ukulele memakan waktu 6 hingga 8 minggu, dalam satu bulan timnya bisa menghasilkan 10 ukulele.

“Harganya variatif, mulai dari Rp1,5 Juta sampai Rp8 Juta. Tergantung kayunya apa, desainnya bagaimana dan part lain seperti ukulele yang bisa disambungkan ke sound system itu bikin mahal,” kata Ogi. Harga termurah ukulele buatan Ogi dan Fadli, Rp1,5 juta disebut lebih murah dibanding ukulele lain di pasaran. Harga ini disediakan bagi pemain ukulele pemula.

Proses produksi diawali dengan sharing bersama pemesan ukulele untuk menentukan spesifikasi bunyi yang diinginkan, pemilihan kayu hingga pembuatan bentuk mengikuti serat kayu agar tercipta pola yang alami. Setelah itu, proses pengerjaan ukulele dimulai dengan menghaluskan kayu, mencetak frame ukulele dan melakukan leveling fret serta stem nada ukulele.

“Dalam proses produksi tantangan yang sering ditemui adalah bagaimana menemukan kayu yang tepat karena untuk membuat ukulele yang baik dibutuhkan kayu berumur tua. Juga dalam satu pohon yang sama, satu kayu dengan kayu lainnya itu akan beda bunyinya, itu seninya. Harus menyamakan bunyi antara satu ukulele dengan lainnya meski dari pohon yang sama,” kata Ogi.

Kini ukulel buatan Ogi dan timnya telah menyebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Jawa, Bali, Sumatra, hingga Papua. Beberapa artis pun memakai ukulele buatannya, seperti Fadli Padi, Aditiya Sofyan, hingga Ivan Payung Teduh. Dalam sebulan, setidaknya ada satu ukulele yang dikirim ke luar negeri. “Omzet dalam satu bulan sekarang bisa mencapai Rp40 Juta,” kata Ogi.