KEPALA KANTOR PELAYANAN PAJAK BEA CUKAI : Bukan Pemetik tetapi Penanam

KEPALA KANTOR PELAYANAN PAJAK BEA CUKAI : Bukan Pemetik tetapi PenanamKepala Kantor Pelayanan Pajak Bea Cukai Yogyakarta, Sucipto/Harian Jogja - Rheisnayu Cyntara
12 Februari 2019 08:32 WIB Rheisnayu Cyntara Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bea cukai identik dengan pungutan bea masuk, keluar dan cukai akan suatu barang yang ditentukan. Namun kini Kantor Pelayanan Pajak Bea Cukai tak hanya mempunyai fungsi tersebut, banyak tugas lain yang dipercayakan. Zaman sudah berubah, paradigma tentang bea cukai pun telah banyak bergeser.

"Peran Kantor Pelayanan Pajak Bea Cukai kini sudah berubah. Ibaratnya kalau dulu kami ini pemetik buah, sekarang menjadi penanam pohon. Kami tidak hanya menarik bea masuk, keluar, dan cukai saja tetapi mendorong industri untuk berkembang. Paradigmanya sudah berubah," ujar Kepala Kantor Pelayanan Pajak Bea Cukai Yogyakarta, Sucipto saat ditemui Harian Jogja pada Senin (11/2) siang.

Bea cukai memang identik dengan pembayaran bea yang harus dilakukan jika membeli ataupun menjual barang ke luar negeri, pemahaman yang lumrahnya ada di benak masyarakat. Namun siang itu, Sucipto bersedia meluangkan waktu untuk menjelaskan tugas-tugas Kantor Pelayanan Pajak Bea Cukai yang belum banyak diketahui. Menurutnya, ada tugas Ditjen Bea dan Cukai yang terangkum dalam empat fungsi yaitu trade facilitator (memfasilitasi perdagangan), industrial assistance (melindungi industri dalam negeri dari persaingan tidak sehat industri sejenis dari luar negeri), community protector (melindungi masyarakat dari masuknya barang-barang berbahaya), dan revenue collector (memungut bea masuk, bea keluar, serta cukai).

Empat fungsi inilah yang tengah digalakkan. Proses yang panjang ini menurut Cipto dalam dirangkum dalam analogi pohon. Bea cukai berusaha menjadi penanam pohon, artinya fungsi fasilitasi perdagangan agar industri dalam negeri bisa bersaing dengan luar negeri dilakukan. Di antaranya melalui permudahan impor bahan baku dan ekspor hasil jadi. Pelaku industri dibebaskan dari bea masuk bahan baku yang didatangkan dari luar negeri sekaligus bea keluar jika produk jadinya kembali di ekspor.

Cipto mencontohkan program Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) bagi Usaha Kecil Menengah maupun Industri Kecil Menengah (IKM). Dengan pembebasan bea masuk dan keluar ini, Cipto menyatakan pemerintah ingin mendorong ekspor produk IKM dan juga memberikan dampak peningkatan ekonomi kerakyatan. Sebab jika biaya impor maupun ekspor turun, ongkos produksi pun akan turun dan kualitas serta kualitas produk dapat meningkat, sehingga IKM pun bisa meningkatkan ekspor produknya.

"Jika dilihat untung rugi, bisa jadi ini dilihat sebagai kerugian karena bea cukai tak dapat apa-apa dari pembebasan bea masuk maupun keluar ini. Namun jika kita mau melihat lebih jauh, dengan adanya KITE ekspor kita akan meningkat. Ekonomi dalam negeri terangkat dan pendapatan pajak juga naik. Artinya kami bisa bersinergi dengan Ditektorat Jenderal Pajak," kata pria asal Purworejo ini.

Menurutnya, KITE merupakan sebuah bentuk insentif fiskal yang diberikan pemerintah. Selama barang tersebut akan diekspor maka bea keluarnya gratis tetapi jika hanya dijual untuk pasar dalam negeri, pengusaha harus membayar bea masuk. Dengan stimulus tersebut, Cipto yakin industri akan lebih memilih untuk merambah pasar luar negeri.

KITE IKM, Pusat Logistik Berikat, Gudang Berikat, dan berbagai program lain menurut Cipto memang sudah sesuai dengan tupoksi serta karakteristik bea cukai yakni tegas dan cepat. Tegas untuk melindungi industri dalam negeri dari persaingan dan individu dari barang-barang yang berbahaya tetapi sekaligus mempercepat pertumbuhan industri dan investasi di dalam negeri. Dengan paradigma tersebut, ukuran kinerja bea cukai tak hanya diukur lewat besaran pendapatan dari bea masuk, keluar, dan cukai. Namun Cipto menyebut kini ada ukuran dampak ekonomi yang juga dihitung.

"Maka kami kini mempunyai beberapa tim seperti KITE IKM dan tim-tim lainnya yang akan menyurvei apakah industri ini cocok diberikan fasilitasi, apa potensi yang dimiliki. Maka kami akan selalu berkoordinasi dengan berbagai pihak. Termasuk Dinas Perdagangan dan Perindustrian di daerah," ujarnya.

Koordinasi Jadi Kunci

Koordinasi internal maupun eksternal menurut Cipto menjadi sangat penting dilakukan. Sebab dalam menjalankan tupoksinya, bea cukai tak akan mampu menjalankan sendiri. Semua punya andil di dalamnya, baik otoritas bandara, pihak kepolisian, kantor pajak, hingga dinas-dinas di daerah. Hal itulah yang selalu ditanamkan Cipto kepada seluruh timnya.

Selain itu, Cipto juga mengakui berurusan dengan barang masuk dan keluar serta beanya bukan perkara yang mudah. Ia dan timnya seringkali jadi sasaran amarah masyarakat yang ogah menaati peraturan yang telah ditetapkan terkait bea masuk barang. Namun menurutnya selama pekerjaan ini dianggap sebagai bagian dari ibadah, segala hambatan akan terasa ringan. "Kalau kena marah ya anggap saja itu pahala buat kita," ujarnya sambil tertawa.