Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Mulai Berjalan

Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Mulai BerjalanPerahu wisata menyusuri kawasan objek wisata Klayar di Dusun Klayar, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/David Kurniawan
26 Maret 2019 09:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) di DIY dinilai telah muncul. Meski begitu pengembangan pariwisata berkelanjutan tidak mudah, lantaran belum semua lapisan masyarakat memahami pentingnya pariwisata.

Pariwisata berkelanjutan menurut UNESCO diartikan sebagai kegiatan pariwisata yang menghormati masyarakat lokal, para wisatawan, warisan budaya serta lingkungan. Hal tersebut juga yang ditekankan oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya saat ini, bagaimana mengembangkan pariwisata diiringi kesadaran masyarakat melestarikan objek wisata.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), DIY, Udhi Sudiyanto mengungkapkan DIY sangat mendukung dengan adanya pariwisata berkelanjutan, karena di DIY salah satunya fokus ke budaya yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata. “Nah kalau kita melestarikan budaya, baik itu kesenian, adat istiadat, dan ekonomi kerakyatannya, tentu ini merupakan salah satu konsep wisata berkelanjutan,” ucap Udhi kepada Harian Jogja, Senin (25/3).

Diungkapkannya karena wisata berkelanjutan, sangat tergantung pada seberapa besar peran masyarakat dan manfaat bagi masyarakat, DIY dengan segala kekayaannya dan dilestarikan oleh masyarakat sendiri merupakan bentuk upaya pengembangan wisata berkelanjutan.

Selain itu, ia mengatakan pelestarian alam dengan berdasar pada community base tourism merupakan salah satu contoh konkret mengenai pariwisata itu berkelanjutan. Masyarakat dengan sadar ikut memahami dan  melakukan sapta pesona yang pada akhirnya, alam terjaga dengan baik, budaya terjaga,  dan kesejahteraan rakyat meningkat.

Sekarang sudah banyak destinasi yang dikembangkan oleh masyarakat, dikelola oleh masyarkat dan hasilnya dinikmati oleh masyarakat. Pemerintah hadir sebagai pengontrol agar perkembangannya, tatatanan sesuai dengan aturan-aturan yang ada.

Ia mengungkapkan saat ini sudah banyak yang menerapkan konsep sustainable tourism meskipun tidak menyeluruh. Artinya beberapa bagian sudah melakukan, sebagian lain tidak, karena konsep ini selalu berkembang.

“Namun demikian memang  tidak mudah untuk menerapkan konsep sustainable tourism. Belum semua lapisan masyarakat memahami arti pentingnya pariwisata. Masih terjadinya kepentingan-kepentingan sesaat untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Padahal kita juga harus memikirkan keberlanjutan dan pariwisata dan destinasi tersebut,” ujarnya.

 

Kelestarian Lingkungan

Disamping itu, harus memperhatikan keberlangsungan lingkungan alam, jangan sampai dirusak untuk pembangunan tanpa memperhatikan kelestariannya.

Menurutnya, yang mulai menjadi masalah besar adalah penggunaan plastik yang tidak terkontrol. Masyarakat harus menyadari bahwa pengelolaan sampah plastik tidak hanya membuang sampah pada tempatnya. Namun juga harus bertanggung jawab terhadap bagaimana plastik itu dibuang atau dimanfaatkan kembali dalam bentuk yang lain.

Masih banyak sekali penggunaan plastik tanpa tanggung jawab. Hal ini menjadi pekerjaan besar bagi semua masyarakat, salah satu cara adalah dengan  menggunakan plastik seminimal mungkin. Dengan demikian alam akan lestari yang pada akhirnya merupakan bagian dari sustainabililty.

Bagian Pemasaran Gunung Api Purba Nglanggeran, Patuk, Heru Purwanto, mengungkapkan konsep pariwisata yang dikembangkan di Nglanggeran merupakan pariwisata berkelanjutan, dengan konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

“Konservasi dengan menekan kunjungan di gunung api purba agar tidak terlalu banyak, edukasi membuat paket wisata dengan mengidentifikasi potensi lokal yang dapat dijadikan atraksi wisata,” ungkapnya.

Kemudian pemberdayaan masyarakat dengan membuat homestay untuk menginap tamu, setiap kegiatan pesan  kuliner ke kelompok ibu-ibu, edukasi di kelompok kesenian, kelompok peternakan, kelompok tani.

Diharapkan dengan konsep ini membuat kekompakan, kebersamaan, dalam pengelolaan tetap terjaga dan dukungan masyarakat dalam pengembangan pariwisata tetap terjaga. Selain itu, regenerasi selanjutnya bisa meneruskan konsep pariwisata tersebut agar dapat bisa dinikmati generasi selanjutnya tidak hanya saat ini.

Meski begitu diakui Heru ada tantangan secara garis besar pada sumber daya manusia. Secara umum pariwisata berkelanjutan dan berbasis masyarakat memanajeman konflik yang ada agar bisa selaras dan terarah dalam perjalanannya.