Bank Indonesia Dilematis Tentukan Suku Bunga Acuan, Opung: Tidak Naik Tidak Turun

Bank Indonesia Dilematis Tentukan Suku Bunga Acuan, Opung: Tidak Naik Tidak TurunMenko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) - Bisnis/Abdullah Azzam
20 Juni 2019 07:37 WIB Puput Ady Sukarno Ekbis Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Suku bunga Bank Indonesia (BI) diharapkan tidak naik dan juga tidak turun. Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

"[Opung - apaan akrab Menko Darmin - suku bunga, naik apa turun Opung, sebaiknya?] Yaa,, tidak naik tidak turun," ujarnya singkat di Kantor Kemenko Perekonomian, Rabu (18/06/2019) malam.

Namun saat dipertegas, bahwa jawaban tersebut bisa juga berarti tetap, mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut hanya melemparkan senyum sambil menutup pintu kendaraan dinasnya dan berlalu meninggalkan Gedung Ali Wardhana, Kemenko Perekonomian, Rabu (19/06) malam.

Sepeti diketahui bahwa saat ini, Bank Indonesia, selaku bank sentral Tanah Air tengah menghadapi situasi yang dilematis dalam menentukan langkah pemangkasan suku bunga acuan, apakah diturunkan atau ditahan. Pasalnya peluang untuk hal itu, saat ini bisa dikatakan seimbang.

"Dengan pertimbangan CAD atau defisit transaksi berjalan yang masih lebar, mengarah ke 3% dari PDB dan tekanan ke Neraca Pembayaran Indonesia, maka peluang BI turunkan suku bunga acuan ke 5,75% versus menahan suku bunga acuan di 6% menjadi fifty-fifty," papar Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, Rabu (19/06/2019).

Namun pada sisi lain, ruang penurunan suku bunga memang terbuka lebar karena kondisi domestik yang mendukung, yakni seperti inflasi terkendali di level rendah, lalu perbaikan daya saing Indonesia dari IMD World Competitiveness 2019 yang naik ke urutan 32 dari 63 negara.

Kondisi pendukung lainnya yakni perbaikan rating utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB dgn outlook stabil dari Standard & Poor sehingga Indonesia sudah masuk ke status 'investment grade' secara penuh.

'Posisi cadangan devisa yang US$120 miliar dolar AS atau setara 7 bulan impor dan bayar utang luar negeri pemerintah masih memadai," ujarnya.

Kemudian, pada sektor riil dan perbankan, butuh stimulus dari jalur suku bunga untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi supaya Indonesia tidak kehilangan momentum mendongkrak pertumbuhan lebih tinggi di 2020 nanti.

Kemudian, pendalaman pasar keuangan terus dilakukan oleh BI seiring dengan outlook perekonomian nasional yang tetap tumbuh positif.

Selain itu, kebijakan makroprudensial dan bauran kebijakan sudah disiapkan oleh BI untuk membentengi dampak negatif penurunan suku bunga acuan atau BI7DRRR.

Sumber : bisnis.com