Saham Provider Potensial Cuan, Tertarik?

Saham Provider Potensial Cuan, Tertarik?Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Felix Jody Kinarwan
30 Juli 2019 06:47 WIB Herlambang Jati Kusumo Ekbis Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Saham provider memiliki peluang besar memberikan keuntungan bagi investornya. Kemajuan teknologi yang pesat dibarengi masifnya penggunaan jaringan seluler menjadi landasan hal tersebut dapat terjadi.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) DIY, Irfan Noor Riza menjelaskan prospek atau potensi saham ditentukan berbagai faktor, salah satunya tren yang tengah berkembang di masyarakat. “Mengapa provider? Karena ini eranya milenial dan di Indonesia ada 236 juta pengguna telepon genggam. Dibalik itu kan ada provider, dengan melihat real keuntungan itu saja di belakangnya pasti investor akan memburu saham ini,” ucap Irfan, Senin (29/7).

Menurut Irfan, usia saham provider potensial memberikan cuan tergantung pada sampai kapan penduduk Indonesia mayoritas membelanjakan uang untuk pulsa atau paket data. Jika hal ini masih dilakukan, dapat dipastikan saham provider berusia panjang.

Sayang, kata dia, banyak masyarakat yang tidak tahu atau lupa untuk membeli saham provider. Alhasil keuntungan besar dari bisnis telekomunikasi ini tak dirasakan, publik sekadar menjadi konsumen. Hingga saat ini, secara umum 52% investor yang ada di Indonesia justru orang asing.

 

Gandeng PT

Irfan menuturkan meski kondisi pasar modal di Jogja belum sesuai harapan, situasi ini menjadi tantangan sekaligus potensi yang perlu digarap. Karena itu, BEI secara konsisten menggandeng perguruan tinggi untuk membuat galeri-galeri investasi.

Di Jogja, Irfan mengaku minat investasi anak muda membaik. Setidaknya, 30% dari 42.000 investor adalah anak muda. Meskipun, ujar dia, bukan seluruhnya warga asli Jogja. Sebagian di antara mereka adalah mahasiswa luar daerah yang sedang berkuliah di Jogja.

“Ini yang membuat kami bersemangat potensi pertumbuhan luar biasa, mungkin setelah lima tahun mereka kembali ke daerahnya dan di sini sudah teredukasi oleh pasar modal bisa menyiarkan ke masyarakat sekitarnya,” ujarnya.

Irfan mengungkapkan untuk masyarakat yang ingin tahu lebih dalam lagi tentang investasi di pasar modal dapat datang langsung ke kantor BEI, media sosial atau galeri investasi yanga ada di kampus-kampus. Pihaknya juga membuka sekolah pasar modal yang ditujukan ke komunitas atau asosiasi gratis.

Salah satu warga Kalasan, Sleman, Galih Noviantoro,24, mengaku masih kesulitan untuk mencoba di pasar modal. “Dulu trading saja, masih kesulitan tetapi belum menemukan metode yang tepat dan sering rugi,” ujarnya.

Karena itu, dia belum berani mencoba untuk ke arah investasi. Dia mengaku masih butuh waktu untuk belajar melihat kondisi perusahaan dari berbagai sisi sehingga mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membeli saham. Meski, ujar dia, hal ini memerlukan jangka waktu yang lebih lama.