Punya Potensi Besar, Wisata Jateng & DIY Terkendala Masalah Ini

Punya Potensi Besar, Wisata Jateng & DIY Terkendala Masalah IniMenteri Pariwisata Arief Yahya (tengah pegang mikrofon) dalam jumpa pers di Glamping De'Loano, Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (22/8)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
23 Agustus 2019 00:37 WIB Kusnul Isti Qomah Ekbis Share :

Harianjogja.com, PURWOREJO—DIY dan Jawa Tengah memiliki potensi pariwisata yang besar. Namun, akses masih menjadi kendala peningkatan wisata di Jawa Tengah dan DIY. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan atraksi dan budaya yang ada di DIY dan Jawa Tengah tidak kalah dari daerah lain. Hanya akses menuju Jateng dan DIY khususnya jalur udara yang masih belum maksimal karena kapasitas bandara yang kurang besar. "Terutama udara karena 100 persen orang kunjungi DIY dan Jateng melalui udara. Kalau ke Kepulauan Riau 100 persen melalui laut. Ketika melalui udara dan bandaranya masih seperti itu, enggak mungkin," kata dia dalam jumpa pers di sela-sela kunjungan kerja di Glamping De'Loano, Purworejo, Jateng, Kamis (22/8).

Aksesibilitas akan berpengaruh pada kunjungan wisatawan mancanegara. Ia membandingkan Candi Borobudur dengan Ankor Wat. Candi Borobudur dikunjungi 250.000 orang per tahun, sedangkan jumlah wisman yang berkunjung ke Angkor Wat bisa mencapai 2,5 juta orang per tahun. "DIY dan Jateng targetnya dua juta wisman. Oleh karena itu perlu integrated tourism master plan (ITMP)," terang dia.

Ia menjelaskan ada 10 destinasi pariwisata prioritas (DPP) yang dikembangkan sebagai Bali Baru di Indonesia. Sebanyak 10 destinasi tersebut yakni Danau Toba (Sumatra Utara), Belitung (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Gunung Bromo (Jawa Timur), Mandalika Lombok (NTB), Pulau Komodo (NTT), Taman Nasional Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Morotai (Sulawesi Utara).

Dari 10 DPP, Presiden RI Joko Widodo menetapkan empat DPP menjadi super prioritas. DPP super prioritas tersebut yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Tahun ini Presiden menambah satu kawasan ekonomi khusus (KEK) Likupang (Sulawesi Utara), sehingga ada lima destinasi pariwisata super prioritas yang harus dilakukan percepatan dalam pengembangannya.

Guna mendukung pengembangan pariwisata super prioritas tersebut saat ini tengah dibuat ITMP di Danau Toha, Borobudur, dan Mandalika. Rencana komprehensif untuk mengembangkan destinasi perlu perhatian dari semua pemangku kepentingan.

ITMP akan menjadi panduan pengembangan hingga 25 tahun ke depan. Ada empat komponen yang dapat mendukung pencapaian tujuan utama program tersebut. Komponen tersebut yakni meningkatkan kapasitas kelembagaan untuk memfasilitasi pengembangan pariwisata terpadu dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas jalan dan akses pelayanan pasar, mendorong paritisipasi lokal dalam perekonomian sektor pariwisata, dan meningkatkan lingkungan yang kondusif untuk masuknya investasi swasta dan usaha ke bidang pariwisata.

 

Terus Berbenah

Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB) Indah Juanita mengungkapkan BOB sangat mendukung penerapan ITMP. Ke depan dokumen tersebut perlu disosialisasikan kepada pemangku kepentingan sebagai acuan pengembangan pariwisata.  "Selain itu, BOB mesti berperan aktif dalam koordinasi, fasilitasi, dan sinkronisasi dalam pengembangan tiga destinasi wisata nasional [DPN] Borobudur-Jogja, Semarang-Karimunjawa, dan Solo-Sangiran. Keberadaan BOB dapat menunjang percepatan pencapaian target dua juta wisatawan mancanegara di DIY dan Jawa Tengah," terang dia.

Ia mengungkapkan BOB terus berbenah mengembangkan kawasan otoritatif menjadi kawasan pariwisata terpadu seperti Nusa Dua Bali. Sehingga, ke depan akan menimbulkan multiplier effect positif bagi kawasan di sekitarnya.

Pada tahap ini, BOB telah mengembangkan laboratorium nomadic tourism [Glamorous Camping De'Loano] di Purworejo yang diresmikan 14 Februari 2019. BOB juga mengembangkan atraksi baru yakni tree house, amphitheater, home pod, dan green house. Diharapkan BOB dapat menjadi pendongkrak kesejahteraan masyarakat sekitar dengan tetap memperhatikan harmonisasi social culture setempat.

"Dalam mengembangkan kepariwisataan di kawasan otoritatif dan koordinatif, BOB mengadopsi budaya kerja yang dikenalkan Menteri Pariwisata yakni win way yang menjadi senjata untuk memenangkan persaingan dengan tiga S yakni solid, speed, dan smart. "Di era teknologi digital saat ini, tidak berlaku lagi pendapat yang besar mengalahkan yang kecil. Kini sudah berubah yang cepat mengalahkan yang lambat," kata dia.